Page 58 - index
P. 58

Perkembangan Masyarakat Informasi & Teori Sosial Kontemporer

            kondisi pasar, dan sepenuhnya mengejar target untuk meraih keuntung-
            an dan akumulasi modal, sehingga peran media massa yang seharusnya
            menjadi bagian dari ruang publik untuk sarana penyaluran aspirasi so-
            sial-politik masyarakat berubah menjadi instrumen yang dimanfaatkan
            pihak-pihak yang berkuasa untuk menghegemoni publik (Babe,  2009:
            18-32).  Perkembangan bisnis media massa yang menempatkan media
            massa sebagai bagian dari industri budaya yang kapitalistik mau tidak
        Prenada Media Group
            mau mengubah roh dan kinerja media menjadi tak ubahnya seperti in-
            dustri budaya lain yang cenderung hanya mengejar keuntungan dan
            menjadikan masyarakat semata sebagai objek untuk mengeruk laba.
                Industri budaya yang kapitalistik, dalam banyak kasus tumbuh se-
            bagai kekuatan yang justru meredam gejolak demokrasi dan partisipasi
            masyarakat, karena secara sengaja maupun tidak, mencegah terbangun-
            nya prakondisi bagi perkembangan masyarakat yang demokratis. Media
            massa,  di era masyarakat post-industrial  bukan membuka pintu bagi
            tumbuhnya sikap kritis masyarakat,  melainkan justru menjadi sarana
            melakukan hegemoni bagi kepentingan kelompok yang berkuasa, yang
            mengkonstruksi cara berpikir masyarakat menjadi apatis melalui infor-
            masi dan berbagai acara serta berita yang disuguhkan kepada publik.
                Di berbagai negara, tak terkecuali di Indonesia, ketika kekuatan ka-
            pitalisme makin dominan,  yang terjadi kemudian ruang publik bukan
            hanya tidak berfungsi sebagai ruang politis yang berdaulat terhadap ke-
            pen tingan-kepentingan survival, lebih dari itu juga ruang publik itu jus-
            tru raib dalam dominasi pasar yang diterima oleh para individu dengan
            sukarela dan pada tingkat ini kekuatan pasar telah mencapai status apa
            yang disebut Antonio Gramsci sebagai hegemoni (Hardiman, 2010: 193).
                Menurut Hardiman (2010: 195), dalam banyak kasus apa yang ter-
            jadi dan dialami di negara yang didominasi kekuatan industri budaya
            yaitu refeodalisasi, yakni bahwa negara dan pasar melakukan intervensi
            hegemonis ke dalam ruang publik, sehingga ruang publik yang di dalam
            era Pencerahan borjuis abad ke-18 berciri otonom dan kritis terhadap
            ekonomi dan birokrasi itu, kini malah menjadi arena kepentingan pasar
            dan birokrasi,  sehingga yang timbul bukanlah proses penyadaran dan
            pendewasaan sikap politik masyarakat, melainkan justru tindakan yang
            mengalienasikan masyarakat dari realitas nyata.



            46
   53   54   55   56   57   58   59   60   61   62   63