Page 53 - index
P. 53
BaB 3 | Ruang Publik, Civil Society & Digital Natives: Perspektif Jürgen Habermas
Baudrillard (2006) melihat perubahan masyarakat postmodernitas
yang dihela perkembangan teknologi informasi sebagai suatu tren dan
sebagai awal dari suatu era baru yang dibawa oleh makin maraknya
komunikasi bermediasi, konsumsi simbolis, dan semakin mampatnya
ruang dan waktu. Peran media massa—terutama budaya populer dan
iklan—yang makin signiikan, menurut Baudrillard melahirkan referen-
sialitas diri pada tanda-tanda—yang menjadi semakin intensif oleh
Prenada Media Group
konsumsi tanda-tanda (misalnya cap dan merek dagang tertentu), dan
munculnya keteraturan tatanan sosial yang didasarkan pada konsumsi
simbolik (Turner, 2012: 433).
Jika era pramodern ditandai dengan logika pertukaran simbolik
(sym bolic exchange), dan era modern ditandai dengan logika produk-
si, maka kini tengah menjelang era baru, yakni era postmodern, yang
ditandai dengan logika simulasi. Bersamaan dengan lahirnya era post-
modern, menurut Baudrillard (1983), maka prinsip-prinsip modernisme
pun tengah menghadapi saat-saat kematiannya. Dalam bahasanya yang
khas, Baudrillard mengumandangkan kematian modernisme dengan
logika produksinya. Dengan kata lain, masyarakat modern berkutat di
seputar produksi dan konsumsi komoditas, sementara masyarakat post-
modern berkutat di seputar simulasi dan permainan citra dan tanda,
yang menandakan situasi di mana kode, model, dan tanda merupakan
bentuk pengaturan dari tatanan sosial baru yang diatur simulasi.
Di era postmodern, orang umumnya makin sulit membedakan mana
realitas sosial yang alami, mana realitas yang semu, dan mana pula re-
alitas sosial yang melampaui batas dirinya sendiri. Akibat kemajuan
teknologi informasi, terutama sistem komputerisasi, kini boleh dikata
apa pun bisa diciptakan, direkayasa seolah seperti aslinya. Di era ser-
ba digital seperti sekarang ini, segala sesuatunya seolah-olah siap se-
lalu untuk direproduksi—di mana, yang nyata tidak sekadar dapat di-
reproduksi, namun selalu dan selalu akan direproduksi (Baurdrillard,
1983: 146). Dalam perkembangan masyarakat postmodern, hiperrealitas
merupakan suatu simulasi yang lebih nyata dari yang nyata, lebih cantik
dari yang cantik, lebih putih dari yang putih, lebih sensual daripada seks,
lebih cepat dari yang cepat. Pendek kata selalu lebih memesona dan me-
narik daripada realitas aslinya. Dalam dunia hiperrealitas tidak ada cara
41

