Page 80 - index
P. 80

Perkembangan Masyarakat Informasi & Teori Sosial Kontemporer

            satu sama lain, maka diperlukan usaha besar untuk menarik keluar dari
            apa yang disebut sebagai “lubang hitam” kapitalisme informasional. Di
            Amerika Serikat, proporsi rakyat yang terperangkap dalam lubang hitam
            ini tumbuh dengan cepat; bisa mencapai di atas 10 persen dari populasi.
                Keenam,  munculnya budaya virtualitas nyata.  Di era masyarakat
            informasi,  menurut Castells kita akan bisa melihat kemunculan suatu
                        perk  jaringan,  leksibilitas,
        Prenada Media Group
            dan komunikasi simbolis (termasuk dalam sistem komunikasi ini yaitu:
            jaringan komunikasi mediasi-komputer), dalam bentuk budaya yang se-
            benarnya diatur di sekitar media elektronik. Jenis ekspresi budaya yang
            muncul semakin meningkat dan dibentuk oleh dunia media elektronik.
                Media ini secara luar biasa tumbuh pesat dan banyak ragamnya;
            mengirimkan pesan sasaran ke segmen audiensi tertentu serta sesuai
            dengan keadaan audiensi tertentu. Media semakin lama semakin inklusif,
            menjembatani satu sama lain, mulai dari jaringan TV sampai TV kabel
            atau  satelit,  radio, VCR,  video  musik,  walkman,  yang dikoneksikan ke
            se luruh penduduk di berbagai belahan dunia, dan meski berbeda-beda
            karena budaya,  tetap membentuk hiperteks dengan kapasitas inklusif
            luar biasa. Selanjutnya, dengan pelan namun pasti, sistem media baru ini
            bergerak menuju interaktif, khususnya apabila kita memasukkan jaringan
            CMC (computer mediated communication), beserta aksesnya ke teks, citra,
            dan suara, yang akan melakukan link up dengan sistem media terbaru.
                Di era masyarakat informasional terjadi pemusatan oligopolistik
            dari grup-grup multimedia di sekeliling dunia,  sementara pada waktu
            yang bersamaan terdapat segmentasi pasar,  dan semakin meningkat-
            nya interaksi oleh dan di kalangan individu yang menerobos keseragam-
            an audiensi massa.  Proses ini memicu terbentuknya apa yang disebut
            Castells sebagai the culture of real virtuality. Ini memang demikian, bu-
            kan realitas virtual, karena saat kita menyimbolkan lingkungan dengan
            menyusunnya ke alam hiperteks yang inklusif, leksibel, beraneka ma-
            cam, di mana kita bernavigasi setiap hari, virtualitas dari teks ini pada
            kenyataannya merupakan realitas kita,  simbol di mana kita hidup dan
            berkomunikasi.

                Ketujuh, di era masyarakat informasional, pengungkapan komunika-
            si dalam ruang media yang leksibel tidak hanya berpengaruh pada buda-



            68
   75   76   77   78   79   80   81   82   83   84   85