Page 79 - index
P. 79
BaB 4 | Informasionalisme, Network Society, dan Perkembangan Kapitalisme ...
bisa dibayar sangat tinggi tergantung pada kualitas kerja yang diberikan.
Selanjutnya, perubahan paling nyata dalam pekerjaan di era masyarakat
informasi ini yaitu munculnya socialization/salarization pekerja. Selain
itu terjadi individualisasi kerja, di mana tanggung jawab kerja makin
mengerucut pada keahlian profesi orang per orang, yang selanjutnya
diikuti dengan meningkatnya kekuatan tawar-menawar dari pekerja,
dan ini merupakan ciri utama yang menandai lapangan pekerjaan dalam
Prenada Media Group
masyarakat jejaring. Berbeda dengan era masyarakat industri di mana
posisi pekerja sering kali hanya dipandang sebagai kumpulan massal
dari para buruh yang acap kali tersubordinasi, di era masyarakat infor-
masi, munculnya berbagai profesi di bidang jasa pengolah informasi dan
orang-orang yang menguasai teknologi informasi, umumnya memiliki
posisi bargaining lebih dan dihargai kompetensinya.
Kelima, munculnya polarisasi sosial dan eksklusi sosial. Proses glo-
balisasi, perkembangan jaringan bisnis, dan individualisasi pekerjaan di
satu sisi memang mempermudah komunikasi dan kontrol dalam skala
global. Tetapi, di saat yang sama berbagai kemajuan itu juga memper-
lemah organisasi sosial dan lembaga yang mewakili/melindungi pekerja
di zaman informasi, khususnya serikat pekerja dan kesejahteraan negara.
Tuntutan dan prasyarat bahwa pekerja di era informasi harus me-
miliki keahlian dan pendidikan, dalam banyak kasus telah mendevaluasi
manusia pada pekerjaannya. Namun demikian, pekerja profesional dan
berkeahlian pun sebetulnya juga tidak selalu survive, karena alasan kese-
hatan, usia, diskriminasi gender, atau kurangnya kapasitas untuk ber-
adap tasi dengan tugas atau posisi dan perkembangan baru perusahaan.
Di berbagai negara, menurut Castells tidak terhindarkan munculnya
tren kuat menuju ketidaksetaraan yang semakin meningkat, polarisasi
sosial dan eksklusi sosial.
Di Amerika Serikat misalnya, ketidaksetaraan mengalami pening-
katan sampai periode pra 1920-an. Dalam banyak kasus, eksklusi sosial
telah menghasilkan kantung-kantung keterlantaran dengan banyak titik
masuk. Ini bisa berupa pengangguran dalam jangka panjang, penyakit,
buta huruf fungsional, status tanpa hukum, kemiskinan, keretakan ke-
luarga, krisis psikologi, tak mempunyai rumah, obat-obatan, kejahatan,
pemenjaraan, dan lain-lain. Ketika proses eksklusi ini saling memperkuat
67

