Page 170 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 170
Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik
dan dapat dilihat dari beberapa hal. Ekspresi wajah tokoh pustakawan
tersebut beberapa kali ditampilkan seperti gaya pelawak, misalnya
tertawa terbahak-bahak, melongo seperti orang bodoh, atau melirik sambil
menelan ludah karena ngiler melihat makanan. Seperti halnya dalam
film Adriana, sedikit unsur komedi yang diselipkan dalam film Pupus
menjadikan pustakawan sebagai objek yang pantas untuk bahan lelucon.
Padahal film ini bergenre drama remaja yang alur ceritanya berakhir
dengan duka. Sungguh penggambaran yang tidak pas dengan keseluruhan
konteks film tersebut. Selain itu, pustakawan juga digambarkan tidak patuh
pada aturan dan berani melanggarnya demi rasa kasihan pada pengunjung
perpustakaan.
Pada babak kedua yang berlatar perpustakaan, digambarkan
adegan Panji (tokoh pemeran utama laki-laki dalam film tersebut)
sedang mengembalikan buku perpustakaan. Ketika pustakawan tengah
bercakap-cakap dengan Panji, datang Cindy menghampiri mereka. Cindy
membawakan makanan hasil belajar memasaknya untuk diberikan pada
Panji, namun Panji malah memberikan makanan itu pada pustakawan.
Dalam adegan tersebut, ekspresi wajah pustakawan memperlihatkan
rasa ngiler terhadap makanan yang dibawa Cindy. Adegan ini juga
nampak sedikit berlebihan. Ekpresi yang menunjukkan bahwa ia sangat
menginginkan makanan tersebut dilakukan berulang kali dengan berbagai
simbol. Pustakawan diperlihatkan sedang melirik makanan itu, menelan
ludah, mengeluarkan lidahnya dan menjilat bibirnya, serta mengusap mulut
dan dagunya. Panji lalu menawarkan makanan tersebut pada pustakawan,
“Mau pak?” (sambil menyodorkan tempat makanan). Awalnya pustakawan
menolak tawaran itu, “Jangan mas Panji. Itu kan dari…”. Namun akhirnya
pustakawan menerima makanan tersebut dan Panji berlalu meninggalkan
Cindy ke luar dari ruang perpustakaan.
Adegan tersebut sungguh mempertegas representasi pustakawan
sebagai “liyan”. Menggambarkan pustakawan seolah-olah sebagai orang
yang kurang mampu atau “jarang makan enak” merupakan produksi
wacana terhadap profesi pustakawan sebagai salah satu profesi yang tidak
memberikan kecukupan finansial bagi orang yang menggelutinya.
Hal lain yang juga memperlihatkan peliyanan terhadap profesi
pustakawan dalam film Pupus adalah tidak adanya perubahan sama
sekali pada tampilan sosok pustakawan dalam seluruh babak yang ada.
3 (tiga) babak yang berlatar perpustakaan perguruan tinggi tempat Cindy
dan Panji menimba ilmu digambarkan dalam latar waktu berbeda selama
empat tahun. Babak pertama menggambarkan latar waktu tahun pertama
Cindy memulai kuliah. Babak kedua menggambarkan pertengahan masa-
150 Analisis Wacana Kritis dalam Riset Bidang Ilmu Perpustakaan ...

