Page 167 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 167
Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik
dimiliki.
Peliyanan memiliki konsekuensi yang jelas; sebagai misal, media
(dalam hal ini adalah film) yang melakukan peliyanan bisa mengarahkan
publik pada kesalahan identifikasi dan penyederhanaan masalah. Bukannya
berusaha memahami situasi sosial masyarakat, film malah memberi potret
yang keliru. Representasi yang keliru ini dapat mengukuhkan stigmatisasi
citra buruk pustakawan yang terus didaur ulang dalam produksi wacana.
Film Adriana menampilkan sosok dua orang pustakawan perempuan
yang bertugas di perpustakaan umum. Kedua pustakawan tersebut
bertubuh sangat gemuk, namun memiliki karakter yang berbeda satu sama
lain. Pustakawan pertama digambarkan lebih ramah, modis, cukup aktif
bekerja dan pintar, namun terlihat agak genit dan menggoda aktor laki-
laki muda yang tampan yang sedang berkunjung ke perpustakaan. Kendati
demikian, pustakawan ini juga digambarkan keliru dalam menyusun
buku di rak. Pustakawan kedua digambarkan dengan karakter lebih pasif,
hanya duduk dengan gaya malas dan mengantuk. Pustakawan ini juga
digambarkan melakukan pekerjaan yang tidak mencerminkan profesi
pustakawan, yaitu memindahkan alat pemadam kebakaran keluar dari lift
menuju perpustakaan.
Pada adegan yang memperlihatkan pustakawan pertama sedang
melakukan kegiatan shelving (menyusun kembali buku-buku pada jajaran
koleksi di rak) tampak bahwa ia melakukan kesalahan dalam meletakkan
posisi buku. Beberapa buku diletakkan dengan posisi tidur (horisontal)
dalam rak di antara seluruh buku lainnya yang diletakkan dengan posisi
tegak (vertikal). Adegan ini menimbulkan kesan bahwa pustakawan
menyusun buku di rak secara “asal-asalan”. Dalam kaidah perpustakaan,
buku akan diatur dan disusun dengan posisi yang sama secara tegak
(vertikal). Jika ada buku dengan ukuran yang tidak biasa atau di luar
dimensi rak yang tersedia, misalnya terlalu panjang atau terlalu tinggi,
maka akan diletakkan terpisah di rak khusus.
Adegan tersebut juga memperlihatkan bahwa pustakawan tidak
melihat label di punggung buku ketika akan menyusun buku-buku tersebut
di rak. Pustakawan hanya melihat kover depan/sampul yang berisi judul
buku. Pada kenyataannya hal ini tidak memungkinkan karena penyusunan
buku di rak perpustakaan didasarkan pada urutan call number (nomor
panggil) buku yang tertera pada label di punggung buku, bukan didasarkan
pada judul bukunya. Dengan demikian, untuk dapat melakukan shelving
(menyusun buku di rak) dengan benar, maka pustakawan harus melihat
pada label yang ada di punggung buku.
Penggambaran seperti ini merepresentasikan sikap abai pustakawan
terhadap pekerjaannya. Kegiatan shelving tersebut mungkin nampak
Nina Mayesti 147

