Page 163 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 163
Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik
III. CONTOH PENELITIAN ANALISIS WACANA KRITIS
Berikut ini akan diuraikan salah satu contoh penelitian dalam bidang ilmu
perpustakaan dan informasi menggunakan Analisis Wacana Kritis. Penelitian ini
bertujuan untuk mengkaji wacana tentang pustakawan yang diproduksi dalam
film-film Indonesia serta menganalisis wacana yang turut turut membentuk dan
memainkan peran dalam produksi wacana pustakawan dalam film-film tersebut.
Objek penelitian ini adalah film Indonesia yang rilis pada tahun 2000-an yang
didalamnya menggambarkan pustakawan. Kriteria pemilihan film didasarkan
jenis perpustakaan serta adanya subjek pustakawan, karena tidak semua film yang
berlatar adegan di perpustakaan juga menampilkan sosok pustakawan. Film yang
dianalisis berjumlah 7 (tujuh) judul yaitu: Ada Apa dengan Cinta, 2002; Catatan
Akhir Sekolah, 2005; Refrain, 2013 (ketiganya bergenre drama remaja dan
menampilkan perpustakaan sekolah); Lovely Luna, 2004 dan Pupus, 2011 (drama
remaja, perpustakaan perguruan tinggi); Kala, 2007 (noir/misteri, perpustakaan
umum); serta Adriana, 2013 (drama remaja, perpustakaan umum).
Unit analisis dalam penelitian ini adalah bagian-bagian dari film yang
akan dikaji, meliputi babak (scene) yang menampilkan adegan berlatar
perpustakaan dan tokoh pustakawan. Proses analisis juga memperhatikan
keseluruhan film, seperti cerita, alur, penokohan untuk mengetahui konteks
dan posisi perpustakaan dan pustakawan yang ditampilkan.
Untuk menganalisis penggambaran pustakawan dalam film-film yang
dikaji, digunakan kerangka Analisis Wacana Kritis dari van Leuween
(2008) mengenai representasi visual terhadap aktor sosial. Representasi
visual memperlihatkan distance (jarak), relation (relasi), dan interaction
(interaksi) antara aktor sosial yang direpresentasikan dengan penonton.
Persoalan jarak dilihat melalui jauh atau dekatnya jarak pengambilan
gambar (close shot atau long shot). Relasi yang menunjukkan keterlibatan
dapat dilihat dari sudut pengambilan gambar (frontal angle atau oblique angle).
Relasi yang menunjukkan kuasa juga dapat dilihat dari sudut pengambilan
gambar (high angle atau eye level atau low angle). Interaksi dilihat dari posisi
pandangan aktor yang ditampilkan, melihat ke arah penonton atau tidak.
Gambar 1 Representation and viewer network (van Leeuwen, 2008: 141)
Nina Mayesti 143

