Page 159 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 159

Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik

            pustakawan sangat peduli dengan peraturan, sementara gadis pesta terobsesi
            dengan kekacauan. Pustakawan terobsesi dengan ketenangan, sementara
            gadis pesta suka hingar bingar. Karakter yang bertolak belakang tersebut
            ditempatkan dalam representasi tokoh pustakawan. Sesuai dengan konsep
            Hall  bahwa  menggugat  stereotip  dapat  dilakukan  dengan  menempatkan
            karakter dalam kerumitan dan ambivalensinya dan mencoba mengadunya
            dari dalam. Berkait dengan tugas sebagai pustakawan, Radford menemukan
            bahwa karakter  pustakawan  yang  ditampilkan  terbatas  pada  tugas
            menyusun buku di rak, men-stempel buku, menegur dengan “ssst..”, dan
            mengajari pengguna bagaimana cara mencari buku dan mengikuti tata cara
            perpustakaan. Penggambaran seperti ini sama sekali tidak menunjukkan
            bagaimana pustakawan membantu pengguna dalam menemukan informasi,
            padahal ini merupakan tujuan utama profesi pustakawan.


                      II. ANALISIS WACANA KRITIS MULTIMODAL
                Realibility of message (keandalan pesan) merupakan salah satu hal
            yang penting dalam penyampaian informasi, yakni apakah suatu pesan itu
            dapat dipercaya atau tidak. Bentuk atau media penyampaian pesan juga
            dapat menunjukkan keandalannya, misalnya kita biasanya lebih percaya
            pada foto dan laporan di berita daripada sebuah cerita di majalah. Hal yang
            sifatnya  visual  biasanya  lebih  dipercaya  daripada  yang  audio.  Dengan
            kata lain, ‘aku melihatnya sendiri’ biasanya lebih dipercaya daripada ‘aku
            mendengarnya sendiri’.
                Menurut  van  Leeuwen  (2008),  wacana  dapat  direalisasikan  tidak
            hanya secara linguistik, tetapi juga dengan cara moda semiotik lainnya.
            Walaupun  bahasa  memainkan  peran  sentral  dalam  legitimasi,  bentuk-
            bentuk legitimasi  dapat diekspresikan secara visual, bahkan musikal.
            Cerita,  misalnya,  dapat  dituturkan  secara  visual  dalam  bentuk  komik,
            film, dan permainan yang mengandung evaluasi moral. Dengan kata lain,
            evaluasi moral dapat direpresentasikan dalam simbol visual. Dalam teks
            audiovisual, musik bahkan dapat mengiringi representasi dari praktik sosial
            dan menambah legitimasi evaluasi moral. Perpaduan gambar dan wacana
            musikal dapat memberikan konotasi tertentu. Karena itu, mengandalkan
            salah satu moda tertentu saja untuk menelaah wacana, khususnya dalam
            komunikasi visual, kini dianggap tidak cukup.
                Bahasa,  gambar,  dan  berbagai  moda  komunikasi  lainnya  berpadu
            untuk  membentuk  makna.  Konsep  inilah  yang  dikenal  dengan  istilah
            analisis multimodal. Sebagaimana lazimnya dalam Analisis Wacana Kritis,
            Multimodal memandang bahwa moda komunikasi adalah konstruksi sosial
            yang membentuk dan dibentuk oleh masyarakat. Analisis Wacana Kritis
            Multimodal  akan  mengungkap  ideologi  dan kepentingan kuasa yang

            Nina Mayesti                                                  139
   154   155   156   157   158   159   160   161   162   163   164