Page 161 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 161

Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik

                plain/unmodulated background hingga  full contextualization;
            5.  Representation, skala yang berkisar dari abstraksi maksimum (tidak
                merepresentasikan apa-apa) hingga representasi maksimum dari detail
                sebuah gambar;
            6.  Depth, skala yang berkisar dari ketiadaan perspektif yang mendalam
                hingga adanya perspektif yang maksimum;
            7.  Illumination, skala yang berkisar dari adanya representasi pengaturan
                cahaya dan bayangannya, hingga sama sekali tidak ada pengaturan
                cahaya; serta
            8.  Brightness, skala yang berkisar dari banyaknya perbedaan brightness,
                hingga cuma ada dua jenis brightness, misalnya: ‘hitam dan putih’ atau
                ‘abu-abu tua dan abu-abu muda’.

                Penanda modalitas tersebut kemudian dianalisis berdasarkan skalanya
            untuk dapat memperoleh penilaian modalitas. Untuk mencapai modalitas
            yang tinggi,  kita  harus dapat  menentukan  skala yang sesuai karena
            modalitas akan menjadi rendah jika skala-nya terlalu rendah atau terlalu
            tinggi. Tinggi/rendahnya modalitas dari suatu skala dapat berbeda-beda,
            tergantung orientasi koding yang digunakan.
                Orientasi  koding  merupakan  sekumpulan  prinsip  abstrak  yang
            menginformasikan  cara  pengkodingan  suatu  teks  yang  dilakukan  oleh
            kelompok  sosial  tertentu,  dalam  konteks  institusional.  Orientasi  koding
            tersebut dibedakan dalam beberapa jenis, yakni:
            (1)   Technological  coding  orientations, yakni  pengkodingan  sebuah
                representasi visual berdasarkan tingkat keefektifannya sebagai sebuah
                ‘blueprint’. Artinya, jika warnanya tidak bermanfaat dalam mencapai
                tujuan ‘teknologi/saintis’, maka gambar itu dinilai memiliki modalitas
                yang rendah.
            (2)   Sensory coding orientations, yakni pengkodingan sebuah representasi
                visual berdasarkan prinsip kesenangan dan makna afektif, misalnya
                dalam konteks dekorasi, fashion, periklanan, majalah kuliner, dan lain
                sebagainya. Artinya, warna-warna seperti vibrant red (warna merah
                yang secara psikologis memberi efek semangat) atau soothing blue
                (warna  biru  yang  secara  psikologis  memberi  efek  menenangkan)
                dianggap memiliki modalitas yang tinggi.
                (3) Abstract coding orientations, yakni pengkodingan yang digunakan
                oleh sociocultural elites –misalnya dalam konteks ‘akademik/saintis’.
                Modalitas semakin tinggi jika semakin merepresentasikan nilai-nilai
                umum (bukan individu). Orang yang mampu melakukan pengkodingan
                ini dianggap sebagai seorang educated person atau serious artist.




            Nina Mayesti                                                  141
   156   157   158   159   160   161   162   163   164   165   166