Page 166 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 166
Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik
gambar diambil dari sudut rendah (low angle), maka tokoh yang ditampilkan
memiliki kekuasaan atau menggambarkan seseorang tersebut berada di
posisi yang lebih tinggi dari penonton. Jika sudut pengambilan gambar
menunjukkan pandangan mata setara (eye level), maka dapat dikatakan
terdapat kesamaan atau kesetaraan antara tokoh yang ditampilkan dengan
penonton.
Hampir seluruh film menggunakan sudut pengambilan gambar setara
(eye level) dalam menampilkan pustakawan. Hanya dalam film Catatan
Akhir Sekolah dan Lovely Luna saja pustakawan ditampilkan secara low
angle yang menunjukkan bahwa penonton memiliki relasi kuasa yang
lebih rendah dibanding pustakawan. Kombinasi teknik pengambilan
gambar low angle dan long shot pada kedua film tersebut menunjukkan
bahwa profesi pustakawan dipandang memiliki kedudukan yang lebih
tinggi di masyarakat, namun dianggap “asing” dan bukan merupakan
bagian dari profesi yang umum dalam masyarakat. Namun demikian,
secara umum relasi kuasa yang ditampilkan dalam film-film yang dikaji
merepresentasikan kedudukan pustakawan secara setara dalam masyarakat.
Faktor yang penting untuk melihat interaksi sosial di dalam film
adalah apakah tokoh yang ditampilkan melihat ke arah penonton atau
tidak. Apabila tokoh melihat kepada penonton, maka dapat dikatakan
bahwa seolah-olah ia sedang menyampaikan pesan secara langsung kepada
penonton. Sebaliknya, jika ia tidak melihat langsung, maka tokoh tersebut
seolah-olah tidak peduli atau sadar dengan orang yang melihatnya.
Dari seluruh film yang dikaji, tidak ada satu pun adegan yang
memperlihatkan pustakawan melihat langsung ke arah penonton. Seluruh
babak dari film yang dikaji menampilkan pustakawan dalam posisi tidak
melihat langsung ke arah penonton. Dengan demikian, secara interaksi
sosial pustakawan direpresentasikan sebagai sosok yang tidak peduli
dengan kita, tidak mau tahu dengan apa yang ingin kita sampaikan, tidak
ingin berinteraksi dengan kita.
Sebagaimana yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya bahwa
hasil analisis pustakawan dari representasi visual seluruh film yang dikaji,
secara umum memperlihatkan pustakawan sebagai “sang liyan”. Terdapat
2 (dua) film di antaranya yang sangat menegaskan representasi pustakawan
sebagai liyan, yaitu Adriana dan Pupus. Babak yang memuat adegan
kegiatan pustakawan dalam kedua film tersebut nampak dengan jelas
memproduksi wacana peliyanan terhadap profesi pustakawan.
Menurut Seay (2014), peliyanan terjadi ketika di dalam sebuah grup
terdapat perlakuan terhadap sekelompok orang di luar grup seolah-olah
memiliki ‘kekurangan’ dengan pengidentifikasian kekurangan tersebut
berdasar pada penampilan fisik, praktik budaya, atau norma-norma yang
146 Analisis Wacana Kritis dalam Riset Bidang Ilmu Perpustakaan ...

