Page 168 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 168

Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik

            sepele, padahal sebetulnya sangat penting. Kesalahan penyusunan buku
            di  rak akan  mengakibatkan  koleksi  tidak  dapat  ditemukan kembali.
            Untuk itulah di perpustakaan terdapat peraturan bahwa pengunjung tidak
            diperkenankan  memasukkan  kembali  buku ke  dalam  jajaran  koleksi  di
            rak. Pengunjung biasanya diminta  meletakkan  buku yang sudah selesai
            dilihat  atau  dibacanya  di  sebuah  meja  khusus.  Pustakawanlah  yang
            bertugas mengembalikan buku-buku tersebut ke jajaran rak koleksi guna
            menghindari kesalahan letak atau susunan.
                Kedua tokoh pustakawan diperankan oleh perempuan yang bertubuh
            sangat  gemuk. Tubuh gemuk  menjadi  simbol  yang menyiratkan  makna
            bahwa pekerjaan  pustakawan  cenderung  statis,  tidak  dinamis  atau
            memerlukan banyak aktivitas fisik serta kegesitan pelakunya. Simbol ini
            meneguhkan wacana yang berkembang sejak lama pada masa perpustakaan
            tradisional, yakni pustakawan adalah penunggu atau penjaga ruang dan
            koleksi perpustakaan. Tidak ada upaya perubahan atau produksi wacana
            baru yang menampilkan  pustakawan  sebagai  pekerja  informasi  yang
            dinamis di era milenium ketiga ini.
                Adegan pertama kemunculan pustakawan dalam film Pupus adalah
            pada  saat  Cindy, tokoh pemeran  utama  wanita  dalam  film  tersebut,
            datang  ke  perpustakaan.  Cindy  yang  saat  itu  sedang  menjalani  masa
            orientasi mahasiswa baru mendapat tugas untuk mencari senior yang hari
            ulang tahunnya sama dengan hari ulang tahun Cindy. Ia menghampiri
            pustakawan dan bertanya, “Saya mau minta tolong, pak. Saya bisa minta
            data mahasiswa yang ulang tahun hari ini?”.  Mendengar pertanyaan itu,
            pustakawan berdiri dari duduknya dan menjawab, “Ada di data komputer
            kita. Kenapa?... Adik kan mahasiswa baru... Maaf ya, dek. Saya ini tidak
            bisa sembarangan memberikan data sama siapapun”.
                Dialog tersebut menunjukkan bahwa pustakawan mengetahui bahwa
            ia  tidak  diperkenankan  memberikan  data  anggota  kepada  orang  lain.
            Namun demikian,  karena  bujukan Cindy serta rasa kasihan dan ingin
            menolong, akhirnya pustakawan memberikan data tersebut kepada Cindy.
            Adegan itu merepresentasikan pustakawan yang melakukan pelanggaran
            etika profesi. Pustakawan tidak melindungi kerahasiaan informasi anggota
            perpustakaannya dengan memberikan data pribadi anggota tersebut kepada
            anggota lainnya, walaupun hal tersebut dilakukannya karena kasihan atau
            sikap ingin menolong.
                Sebagai  suatu  profesi,  pustakawan  tentu  memiliki  kode  etik  yang
            menjadi  panduan  dalam  menjalankan  profesinya.  Pada  tahun  2012
            International Federation of Library Associations and Institutions (IFLA)
            menerbitkan  kode etik bagi  pustakawan  dan  pekerja  informasi  lainnya.
            Kode  etik  tersebut  mencantumkan  bahwa  pustakawan  hendaknya

            148                 Analisis Wacana Kritis dalam Riset Bidang Ilmu Perpustakaan ...
   163   164   165   166   167   168   169   170   171   172   173