Page 165 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 165

Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik

                Dilihat dari Jarak Sosial, hampir seluruh film yang dikaji menggunakan
            jarak  pengambilan  gambar  sedang  (medium  shot) dan  jauh (long  shot)
            dalam menampilkan sosok pustakawan. Terdapat satu film, yaitu Kala yang
            menampilkan pustakawan hanya dengan jarak pengambilan gambar dekat
            (close shot) saja, sedangkan pada film Pupus dan Adriana, pustakawan
            pernah  ditampilkan  secara  close  shot namun  lebih  sering dengan  cara
            medium atau long shot.
                Jarak    mengkomunikasikan     hubungan    interpersonal  dan
            mengungkapkan  sebuah  kedekatan  dari  suatu  hubungan.  Jarak  dalam
            gambar menjadi sebuah simbol. Apabila pengambilan gambar dilakukan
            secara long shot maka berarti penonton mengganggap bahwa orang dalam
            gambar tersebut seolah-olah sebagai orang asing, orang lain yang bukan
            bagian dari kita, sedangkan apabila gambar diambil secara close shot maka
            dapat bermakna dekat atau bagian dari kita. Dari cara pengambilan gambar
            terhadap  pustakawan  yang  ditampilkan  dalam  film-film  yang  dikaji,
            penggunaan teknik long dan medium shot memperlihatkan bahwa secara
            umum sosok pustakawan masih direpresentasikan sebagai “orang asing”
            yang tidak dekat atau bukan menjadi bagian dari masyarakat kita.
                Ditinjau dari aspek Relasi Sosial, seluruh film menggunakan sudut
            pengambilan  gambar  miring (oblique  angle) dalam  menampilkan
            pustakawan dan dalam beberapa film (Ada Apa dengan Cinta?, Adriana,
            Catatan Akhir Sekolah, Lovely Luna, Pupus dan Refrain) juga dimunculkan
            pustakawan dengan sudut pengambilan gambar berhadapan (frontal angle).
            Sudut pengambilan gambar menunjukkan  keterlibatan  simbolik  antara
            penonton  dengan sosok yang ditampilkan.  Oblique  angle menunjukkan
            bahwa  pustakawan  kerap  direpresentasikan  sebagai  sosok  yang  tidak
            memiliki pengaruh dan dianggap tidak terlibat langsung dalam kehidupan
            masyarakat kita.
                Hanya dalam film Pupus pustakawan muncul dengan close shot dan
            frontal  angle  yang merepresentasikan  pustakawan  sebagai  bagian  dari
            masyarakat yang dekat dan terlibat langsung dalam kehidupan kita. Namun
            sayangnya, teknik  pengambilan  gambar  yang  close dan  frontal tersebut
            tidak dibarengi dengan penampilan citra positif dari pustakawannya. Tokoh
            pustakawan ditampilkan sebagai seorang laki-laki tua yang tidak berdaya
            menghadapi  bujukan  pengunjung  perempuan.  Pustakawan  akhirnya
            melanggar peraturan karena rasa kasihan dan ingin menolong pengunjung
            perempuan yang kesulitan tersebut.
                Sudut pengambilan gambar vertikal  memperlihatkan  relasi kuasa
            yang menunjukkan perbedaan kekuasaan antara penonton dan tokoh yang
            ditampilkan. Apabila gambar diambil dari sudut tinggi (high angle), maka
            penonton memiliki kekuasaan atas gambar tersebut. Sebaliknya, apabila

            Nina Mayesti                                                  145
   160   161   162   163   164   165   166   167   168   169   170