Page 164 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 164
Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik
Selanjutnya van Leeuwen (2008: 141-148) menguraikan tentang
strategi berbeda dalam merepresentasikan aktor secara visual, yaitu:
(1). Eksklusi, strategi untuk tidak menghadirkan/mengikutsertakan orang-
orang tertentu sama sekali dalam keseluruhan konteks yang pada
realitasnya mereka ada dalam sebuah kelompok (institusi, masyarakat,
maupun negara).
(2) Peran, strategi untuk menggambarkan orang sebagai agen dari aksi
atau pelaku yang melakukan kegiatan aktivitas tertentu, atau menjadi
seorang “pasien” atau korban dari aksi yang dilakukan terhadap
mereka.
(3) Spesifik dan Generik, strategi menampilkan seseorang berdasarkan
2 (dua) jenis kategorisasi, yaitu berdasarkan budaya (cultural
categorization) dan berdasarkan biologis (biological categorization).
Kategorisasi budaya biasanya melambangkan seseorang berdasarkan
atribut yang digunakan oleh sebuah kelompok seperti pakaian, tata
rias, penampilan. Strategi ini biasa digunakan untuk menunjukkan
konotasi negatif atas budaya tertentu. Kategorisasi biologis biasanya
dilihat dari penampilan fisik orang-orang yang ditampilkan secara
visual. Strategi ini biasanya untuk menunjukkan stereotip negatif yang
bersifat rasis.
(4) Individu dan Kelompok, strategi menampilkan seseorang sebagai
kelompok yang homogen dan menolak karakteristik dan perbedaan
individu.
Hasil analisis dalam penelitian ini berdasarkan kerangka yang
dikemukakan van Leuween (2008: 136-148), menunjukkan bahwa
representasi pustakawan sebagai aktor sosial didudukkan sebagai sang liyan
(the other). “Perbedaan” atau “sesuatu yang lain” memperoleh makna dari
wacana dan praktik sosial yang ada. Perbedaan bisa meliputi ras dan etnis,
gender, seksualitas, kelas, dan disabilitas. Representasi terhadap “perbedaan”
merupakan hal yang kompleks dan melibatkan perasaan, sikap, serta emosi,
bahkan bisa menciptakan ketakutan dan kecemasan bagi para viewer-nya.
Sebuah gambar bisa membawa berbagai makna berbeda, bahkan kadang
berkebalikan, misalnya menggambarkan kejayaan sekaligus penghinaan.
Banyak makna yang potensial terkandung dalam gambar, namun tidak ada
makna yang sesungguhnya (Hall, 2013: 215-218).
Salah satu tugas analisis representasi adalah menemukan berbagai
makna dan menentukan makna mana yang paling dominan. Demikian pula
dalam film-film yang dikaji pada penelitian ini, terdapat berbagai makna
yang terkandung di dalamnya, namun ada yang paling menonjol di antara
berbagai makna tersebut.
144 Analisis Wacana Kritis dalam Riset Bidang Ilmu Perpustakaan ...

