Page 158 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 158
Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik
Analisis wacana dengan paradigma atau perspektif kritis disebut
Analisis Wacana Kritis (Critical Discourse Analysis). Analisis Wacana
Kritis melihat wacana sebagai bentuk dari praktik sosial. Wacana sebagai
praktik sosial menggambarkan hubungan dialektis di antara peristiwa
diskursif tertentu dengan hal-hal yang membentuknya seperti situasi,
lembaga, dan struktur sosial (Eriyanto, 2001).
Analisis Wacana Kritis dapat digunakan untuk menganalisis relasi
terstruktur dari dominasi, diskriminasi, kuasa, dan kontrol yang diwujudkan
melalui wacana. Analisis Wacana Kritis bertujuan menginvestigasi secara
kritis ketimpangan sosial yang diekspresikan, diisyaratkan, dimuat,
atau disahkan melalui sebuah wacana (Wodak, 2009: 2). Seperti yang
dikemukakan oleh Kress (2001) bahwa wacana merupakan bentuk
pengetahuan akan realitas yang dikonstruksi secara sosial, termasuk
peristiwa yang membentuk realitas tersebut, seperti siapa yang terlibat, apa
yang terjadi, dimana dan kapan terjadinya.
Berdasarkan uraian di atas, perpustakaan dapat dipandang sebagai
sebuah institusi yang di dalamnya berlangsung praktik diskursif, yang
memproduksi wacana dan pengetahuan yang terkait dengan permasalahan
yang terjadi dalam masyarakat. Produksi wacana juga berkait erat dengan
persoalan kuasa. Penggunaan Analisis Wacana Kritis dalam penelitian
bidang ilmu perpustakaan dan informasi dapat menggambarkan produksi
wacana dan kuasa yang terjadi di perpustakaan dan lembaga informasi.
Penelitian sebelumnya terkait Analisis Wacana Kritis dilakukan oleh
Radford (2001) yang berjudul Libraries, Librarians, and the Discourse of
Fear yang menggunakan pendekatan wacana Foucault untuk menganalisis
representasi perpustakaan dan pustakawan dalam budaya populer modern,
mencakup film, televisi dan novel. Kesimpulan dari penelitian Radford
menunjukkan bahwa dalam budaya populer Amerika, perpustakaan
digambarkan sebagai bangunan yang besar, agung dan mengesankan
layaknya gereja. Perpustakaan dipahami melalui metafora kontrol, makam,
labirin, debu, hantu, kesunyian dan penghinaan. Tidak nampak metafora
sebagai cahaya penerang, kebahagiaan, kenyamanan atau kegembiraan.
Pustakawan digambarkan sebagai figur yang menakutkan, yang mengetahui
segala hal dan bersikap superior terhadap siapapun yang bertanya.
Pendekatan lain dilakukan oleh Radford (2003) yang melakukan
penelitian Librarians and Party Girls: Cultural Studies and the Meaning of
the Librarian menggunakan pendekatan kajian budaya dan menganalisisnya
dengan konsep stereotip Stuart Hall. Tokoh utama dari film Party Girls
adalah pustakawan perempuan yang juga penyuka pesta. Stereotip sebagai
seorang pustakawan ditampilkan pada diri tokoh tersebut, sekaligus
karakternya yang sangat bertentangan yaitu sebagai gadis pesta. Misalnya,
138 Analisis Wacana Kritis dalam Riset Bidang Ilmu Perpustakaan ...

