Page 175 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 175
Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik
demikian digunakan dalam pengertian umum untuk mencakup semua
cara berbeda dalam merepresentasikan fakta, peristiwa dan konsep dalam
sistem digital dan analog, dan dalam semua media dan format. Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa proses terbentuknya informasi terdapat
input atau data dan output (informasi), serta ada pengirim dan penerima.
Sehingga dapat dikatakan dalam proses terbentuknya informasi tersebut
terdapat peran manusia, baik laki-laki maupun perempuan. Peran-peran
tersebut yaitu sebagai pengelola, pengolah, pelayanan, pengirim, penerima
atau pengguna informasi, selanjutnya disebut masyarakat informasi.
Afiliasi ditulis setelah nama penulis. Apabila terdapat dua atau lebih
penulis yang berasal dari instansi yang sama, maka tidak perlu melalukan
pengulangan cukup sebutkan satu afiliasi. Sebaliknya, apabila penulis
pertama dan kedua berasal dari instansi yang berbeda, tuliskan afiliasi
sesuai dengan urutan kepenulisan.
Alamat email harus dicantumkan. Pastikan email yang dicantumkan
aktif dan dapat dihubungi kapanpun. Abstrak ditulis dalam dua bahasa
yaitu, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Kata kunci ditulis setelah
abstrak. Pastikan setidaknya terdapat 3 - 5 kata kunci.
II. KESENJANGAN GENDER
Peran-peran dan fungsi sosial laki-laki dan perempuan yang
dikonstruksi oleh masyarakat disebut dengan gender. Menurut Mansour
Faqih (2012) ketidakadilan dimulai dengan pembahasan tentang perbedaan
sifat antara laki-laki dan perempuan yang dapat dipertukarkan atau tidak
bersifat permanen (tidak kodrati). Konsep gender dapat berubah seiring
berjalannya waktu, tempat, dan kelas. Perbedaan peran diawali dengan
pembagian peran publik dan domestik antara laki-laki dan perempuan.
Domestikasi perempuan terkenal dengan peran-peran yang telah
membudidaya dalam masyarakat (Intan, 2014). Perempuan dikenal dengan
pribadi yang lemah lembut, berada di rumah, menjadi istri yang penurut,
melakukan pekerjaan rumah tangga seperti memasak dan mengurus anak,
dan sejenisnya. Sedangkan laki-laki dikenal sebagai pemimpin yang
memegang otoritas tertinggi dalam rumah tangga. Dalam peran publik
pun, meskipun wanita memiliki karir yang harus dijalani, sering kali
dianggap remeh dan tidak lebih baik daripada laki-laki walaupun income
yang didapat lebih besar. Dari kedua hal tersebut, jelas sekali pandangan-
pandangan perbedaan peran antar kedua gender.
Perbedaaan gender sebenarnya tidak menjadi masalah selama tidak
melahirkan ketidakadilan gender (gender inequalities). Ada kaitan yang
erat antara perbedaan gender (gender differences) dan ketidakadilan
gender (gender inequalities) dalam struktur ketidakadilan masyarakat
Tri Soesantari 155

