Page 178 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 178
Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik
Universitas Muhammadiyah menunjukkan penggunaan internet oleh
dosen laki-laki maupun perempuan tidak jauh berbeda, namun pada dosen
perempuan lebih cenderung ditambah dengan aktivitas e-commerce,
sedangkan laki-laki menggunakan internet cenderung untuk mengakses
situs akademik.
Berdasarkan data-data tersebut menunjukkan bahwa perempuan dapat
beraktivitas di masyarakat, walaupun demikian data yang lain menunjukan
bahwa yang menguasai informasi masih lebih banyak laki laki terbukti dari
penelitian milik Tomte dan Hatlevik (2011) yang dilakukan di Finlandia
menunjukkan bahwa laki-laki lebih memiliki kepercayaan diri dalam hal
teknologi, termasuk informasi, daripada perempuan. Didukung juga oleh
data dari Pew Research Center pada tahun 2015 yang menunjukkan masih
terdapatnya kesenjangan penggunaan informasi dan teknologi antara
laki-laki dan perempuan. Data tersebut didapatkan dari beberapa Negara
seperti Nigeria, Vietman, Tanzania, Kenya, India, Jepang Palestina, Ghana,
dan Uganda. Survei internet yang dilakukan Asosiasi Penyelenggara
Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2017 menunjukkan bahwa 51,43
persen laki-laki mendominasi komposisi pengguna internet dibandingkan
perempuan sebesar 48,57 persen saja. Penyebab utama diduga karena akses
perempuan pada informasi serta teknologi yang mendukung masih belum
mencukupi.
Hal-hal tersebut menunjukkan adanya kesenjangan gender, dimana
laki-laki memiliki peran lebih tinggi daripada perempuan. Dalam Mufidah
(2003), kata gender (dibaca jender) berasal dari bahasa Inggris berarti
jenis kelamin. Gender yaitu perbedaan yang tampak pada laki-laki dan
perempuan apabila dilihat dari nilai dan tingkah laku. Suatu konsep
kultural yang berupaya membuat perbedaan dalam hal peran, perilaku,
mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan
yang berkembang dalam masyarakat. Dapat dikatakan bahwa peran laki-
laki dan perempuan ada perbedaan atau kesenjangan pada masyarakat
informasi. Kesenjangan peran disebabkan karena permasalahan gender,
seperti marginalisasi, subordinasi, labelisasi, diskriminasi dan kekerasan
yang ada di masyarakat. Dominasi terhadap penguasaan pengelolaan
informasi tidak menutup kemungkinan lebih banyak oleh perempuan.
Hasil penelitian menunjukan bahwa pengelola perpustakaan lebih banyak
perempuan. Misalnya saja di perpustakaan Kementrian Pertanian, dimana
jumlah pustakawan wanita lebih besar dengan angka 60% dibanding
pustakawan laki-laki yang hanya 40% saja (Kristiyaningsih, 2017). Lebih
banyaknya jumlah pustakawan oleh wanita juga ditunjukkan pada penelitian
milik Wahyuningsih dan Tafrikhuddin (2008) yang menunjukkan jumlah
pustakawan wanita di Universitas Gadjah Mada lebih besar daripada laki-
158 Informasi dan kesenjangan Gender

