Page 289 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 289
Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik
ada gangguan seperti dibajak, kerusakan, atau kehilangan file” (BHN, Inf.04).
Berdasarkan wawancara tersebut, diperoleh gambaran bahwa metode
semacam ini merupakan salah satu upaya perpustakaan UIN Sunan
Kalijaga Yogyakarta untuk memastikan file tugas akhir mahasiswa dalam
keadaan aman. Metode ini mampu menjadikan perpustakaan sebagai
lembaga yang bertanggungjawab secara penuh di mata sivitas akademika
dalam mengelola karya ilmiah khususnya tugas akhir mahasiswa. Selain
itu, dapat dilihat secara jelas dalam kaitannya dengan tanggung jawab
adalah melakukan maintenance repositori.
Maintenance dilakukan sebagai upaya menjaga stabilitas sistem dan
akses yang berkesinambungan. Maintenance secara rutin untuk menjaga
agar repositori berjalan lancar, berfungsi sebagaimana mestinya, dan
dapat diakses secara online secara penuh selama 24 jam. Wawancara
yang dilakukan peneliti, baik di perpustakaan UGM, UNY, maupun UIN
Sunan Kalijaga semuanya melakukan maintenance secara rutin. Proses
maintenance ini dilakukan untuk meminimalisir risiko masalah gangguan
kinerja server. Hal ini menjadi perhatian bagi pengelola repositori karena
pemustaka kadang kala memantau repositori secara rutin untuk mengetahui
kebaharuan konten. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya memberikan
jaminan keberlangsungan akses dan stabilitas sistem.
Bentuk lain yang dilakukan pengelola adalah membekali sivitas
akademika dengan username dan password, utamanya dalam mengakses
sumber-sumber informasi online yang dimiliki oleh perpustakaan. Ketiga
perpustakaan yang diteliti memiliki jawaban sama namun redaksi yang
berbeda bahwa hal tersebut dilakukan sebagai bentuk autentifikasi agar
memudahkan pengontrolan jika terjadi kekeliruan, baik identitas maupun
bila terjadi manipulasi data yang dilakukan oleh oknum lain. Di samping
itu, pengguna turut memberikan respon beragam terkait penggunaan akun
dalam mengakses sumber-sumber informasi online. Respon tersebut
misalnya dapat dicermati melalui paparan salah seorang pengguna
perpustakaan UNY berikut ini.
“Pemberian akun kepada setiap mahasiswa sudah merupakan
langkah tepat karena selain untuk menjaga keamanan juga
nantinya memudahkan pengelola untuk membuat laporan dan
bahan evaluasi…Kalau dibilang proteksi sih iya, karena terlalu
riskan kalau tidak diprotect…Selebihnya sebagai bentuk antipasti
saja menurutku” (AFS, Inf.06)
Tampak bahwa upaya perpustakaan tersebut tidak hanya bertujuan
sebagai bentuk proteksi, namun lebih kepada sikap tanggung jawab institusi
dalam menjaga aset intelektualnya. Dalam menghadapi situasi ini, ketiga
Mukhlis 269

