Page 423 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 423

Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik

            teknologi, tetapi mereka harus dapat mendidik petani untuk lebih berorientasi
            pada tujuan pembangunan. Tugas utama penyuluh adalah untuk memfasilitasi
            pembelajaran dan meningkatkan kemampuan petani dalam proses adopsi informasi
            teknis, akses informasi, peningkatan produksi dan bisnis produk pertanian. Tugas-
            tugas penyuluh dibagi oleh Koordinator Penyuluh Pertanian (KPP) (Kementerian
            Pertanian,  2011).  KPP  diangkat  oleh  Kepala  Badan  Penyuluh  yang  berbasis
            di kabupaten dan ditugaskan di Pusat Penyuluhan (BP3K). KPP terpilih harus
            memiliki keahlian teknis tentang agribisnis dan mampu memfasilitasi kegiatan
            pembelajaran. Tugas utamanya sebagai penghubung komunikasi antara penyuluh-
            penyuluh dan anggota kelompoknya serta petani lain di masyarakat. Anggotanya
            terdiri dari penyuluh tetap (PNS), penyuluh lepas/harian (Tenaga Bantu Penyuluh
            Pertanian/TBPP), masyarakat (ekstensi non-pemerintah), dan industri (ekstensi
            swasta). Saat ini Indonesia memiliki lebih dari 44.000 penyuluh yang ditugaskan
            untuk melayani para petani. Rasio penyuluh untuk keluarga petani sekitar 1: 700
            untuk pulau Jawa dan 1: 1.200 untuk pulau-pulau lainnya.

            F. Gap Keterkaitan Pemerintah Indonesia-Penyuluh
                Modernisasi nilai pertanian di Indonesia tergantung pada produktivitas
            pertanian yang telah dicapai. Meningkatnya pendapatan konsumen akan
            meningkatkan permintaan mereka akan komoditas pertanian. Oleh sebab itu
            jika kualitas komoditas pertanian ditingkatkan maka harga jual komoditas
            tersebut akan ikut meningkat (Barrett et al., 2011). Namun dalam kenyataannya
            hal tersebut masih dianggap tidak efektif (Kadir, et al, 2002). Hal ini dapat
            dilihat dari produksi pertanian yang telah dicapai, seperti beras, jagung,
            kedelai, kacang tanah, dan kacang hijau. Meskipun produksi beras dan jagung
            pada tahun 2010 telah meningkat, masing-masing sebesar 1,17 persen dan 2,19
            persen dibandingkan tahun 2009, produksi pertanian lainnya telah menurun,
            terutama kacang-kacangan, seperti kedelai (-4,84 persen), kacang tanah (-2,77
            persen), dan kacang hijau (-5,84 persen) (BPS, 2010b). Hal ini membuktikan
            masih adanya gap antara pemerintah Indonesia dengan penyuluh pertanian di
            lapangan, khususnya kesenjangan atas penyampaian informasi ke petani.
                Sebagian besar literatur mengacu pada kesenjangan hubungan, baik
            sebagai  kesenjangan  dalam  organisasi  (struktur  organisasi  penyuluh),  atau
            sebagai  karakteristik  hubungan  timbal  balik  di  antara  individu-individu
            penyuluh dalam organisasi tersebut (perekrutan, pelatihan dan insentif yang
            tepat) (Padmanagara 1985; Albrecht, et al., 1989; Arnon, 1989; Kaimowitz,
            Snyder and Engel, 1990).


                                III. METODE PENELITIAN
                Penelitian  ini  menggunakan pendekatan  yang berbeda daripada


            Tri Margono                                                   403
   418   419   420   421   422   423   424   425   426   427   428