Page 419 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 419
Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik
dapat memberikan manfaat bagi kesehatan, di luar manfaat yang diberikan
oleh zat-zat gizi yang terkandung didalamnya (Muctadi, 2001). Pangan
fungsional dibagi menjadi dua golongan. Golongan pertama adalah
senyawa yang khasiatnya sebagai zat gizi seperti vitamin, mineral, lemak,
dan protein. Golongan kedua adalah senyawa yang khasiatnya termasuk
kelompok zat non gizi seperti serat pangan, fenol, alkaloid serta antioksidan
(Astawan, 2011). Konsep pangan fungsional dari produk pertanian, pertama
kali diperkenalkan di Jepang pada tahun 1984 dengan istilah Foshu (Food
for Special Dietary Uses) yang berarti pangan yang dikhususkan untuk
diet tertentu. Hal ini dilatarbelakangi oleh semakin banyaknya populasi
orang tua di Jepang yang berpotensi terhadap peningkatan penyakit kronis
seperti penyakit kardiovaskuler, diabetes, hipertensi, osteoporosis, dan
kanker. Berdasarkan hal tersebut, Kementerian Pendidikan Jepang pada
tahun 1984 mencanangkan proyek pengembangan dan penelitian yang
memfokuskan pada sifat fungsional pada pangan (Yamada et.al, 2008).
Komoditas pertanian adalah produk pertanian. FAO (1994) telah
mengklasifikasikan komoditas pertanian menjadi 20 kelompok, berdasarkan
direktori yang berisi “Draf Definisi dan Klasifikasi Komoditas”. Kelompok
yang dimaksud adalah: (1) sereal dan produk sereal; (2) akar dan umbi-
umbian serta produk turunannya; (3) tanaman gula dan pemanis dan
produk turunannya; (4) pulp dan produk turunan; (5) kacang-kacangan
dan produk turunannya; (6) minyak tanaman dan produk turunan; (7)
sayuran dan produk turunannya; (8) buah-buahan dan produk turunannya;
(9) serat dari tumbuhan dan hewan; (10) rempah-rempah; (11) tanaman
dan produk pakan ternak; (12) tanaman stimulan dan produk turunannya;
(13) tembakau dan karet serta tanaman lainnya; (14) minyak dari lemak
nabati dan hewani; (15) minuman; (16) ternak; (17) produk dari hewan
yang disembelih; (18) produk dari hewan hidup; (19) jangat dan kulit; dan
(20) produk ternak lainnya. Dua puluh kelompok komoditas ini kemudian
dibagi lagi menjadi beberapa sub kelompok (792 sub-kelompok).
Produksi (dan konsumsi) komoditas pertanian di Asia Tenggara
memiliki distribusi vegetasi yang beragam, sesuai dengan iklim dan
geografisnya. Sedangkan perekonomian suatu negara sangat memengaruhi
jumlah produksi komoditas pertaniannya. Malaysia adalah produsen
minyak kelapa sawit terbesar, memberikan kontribusi sekitar 11,80 juta ton
atau 50,9 persen dari total produksi (dibandingkan dengan Indonesia 7,5
juta ton atau 32,3 persen). Negara Malaysia juga merupakan pengekspor
minyak kelapa sawit terbesar di dunia, terhitung sekitar 61,1 persen atau
10,62 juta ton dari total ekspor 17,37 juta ton pada tahun 2001 (Teoh,
2003). Di Laos, hingga tahun 2003 masih melakukan praktek pertanian
tradisional dan belum banyak bersentuhan dengan teknologi pertanian
Tri Margono 399

