Page 102 - index
P. 102

90                                        Membaca, Gaya Hidup dan Kapitalisme


              tanpa ada paksaan sedikit pun dari siapa pun. Di kalangan remaja yang
              gemar membaca, status atau julukan sebagai “kutu buku” tampaknya untuk
              saat ini tampaknya tidak dianggap sebagai sesuatu hal yang sok rajin seperti
              stigma di masa lalu yang biasanya diberikan khusus kepada siswa yang
              pintar dan rajin di sekolah. Pergi ke toko buku, membeli buku dan kemudian
              membacanya di waktu luang, bagi remaja urban sekarang ini justru menjadi
              bagian dari cara mereka memanfaatkan leisure time sekaligus menjadi cara
              untuk mengekspresikan dirinya.

                    Bagi remaja urban yang diteliti, membaca untuk kesenangan pada
              dasarnya adalah salah satu aktivitas  pleasure yang secara pribadi sangat
              menyenangkan. Lebih dari sekadar bermanfaat untuk menghibur dirinya
              sendiri dan mengisi waktu luang dengan aktivitas yang menyenangkan,
              membaca dan mengikuti perkembangan bacaan bagi sejumlah informan
              juga bermanfaat untuk mempermudah mereka mengembangkan topik-
              topik pembicaraan yang mengasyikan dengan sesama anggota  peer-
              groupnya. Seperti diperlihatkan dalam temuan data studi ini, ketika remaja
              urban memilih, membeli buku dan kemudian membacanya di waktu luang
              mereka, maka yang terjadi bukan sekadar cara seseorang sebagai pribadi
              atau individu untuk melarikan diri dan mengisi waktu luang mereka hal-
              hal yang sifatnya relaksasi, setelah berkutat dengan tugas sekolah, aktivitas
              belajar, les atau kegiatan rutin lain yang dinilai membebani. Lebih dari itu,
              membaca tampaknya juga dipahami informan sebagai bagian dari modal
              mereka untuk membangun komunikasi yang lebih akrab dan gaul dengan
              sesamanya.
                   “Teman-teman sering mengolok-olok katrok untuk orang yang nggak tahu
                   buku yang sedang in. Apalagi kalau bukunya bagus. Dulu, aku juga pernah
                   dibilang katrok sama teman, karena belum baca novel Noda Tak Kasatmata,
                   Agnes Jessica. Kata teman waktu itu ceritanya bagus. Soal orang-orang PKI
                   (Partai Komunis Indonesia, pen) di Jombang, tapi kemasannya roman. Jadinya,
                   aku beli bukunya di Gramedia.......”, tutur Stefani.
                   “Aku Minggu lalu sengaja ke Gramedia (toko buku, pen) untuk mencari Mimpi-
                   Mimpi Lintang, Maryamah Karpov, jilid terakhir terusannya Laskar Pelangi.
                   Soalnya banyak temenku sudah pada beli. Aku ndak sempat beli, soalnya
                   sopirnya Mama keluar. Jadi ngak ada yang nganter. Akhirnya, Minggu lalu
   97   98   99   100   101   102   103   104   105   106   107