Page 106 - index
P. 106

94                                        Membaca, Gaya Hidup dan Kapitalisme


              Golden Compass, Twilight, atau Laskar Pelangi biasanya selalu menarik minat
              remaja urban untuk membacanya. Selain untuk membandingkan lebih jauh
              cerita yang sesungguhnya ditulis dalam novel dengan kisah yang diangkat
              ke  fi lm, membaca bacaan yang tengah populer bagi sejumlah informan
              dianggap sebagai bagian dari upaya untuk mengikuti perkembangan jaman.
                   “Membaca novel-novel yang laris menurutku sih memang asyik. Soalnya
                   ceritanya pasti baguslah. Kalau teman-teman banyak baca, terus kita ndak
                   baca, ya rasanya gimana gitu. Nggak enaklah. Kalau aku, sama-sama enak,
                   menonton  fi lmya atau membaca bukunya. Tapi, biasanya cerita di  fi lm  itu
                   dipotong-potong, ndak lengkap. Kalau membaca novelnya lebih rinci, ceritanya
                   lengkap. Bulan lalu, waktu aku nonton Twilight, banyak cerita dari novel yang
                   tidak ditampilkan di  fi lm. Dulu waktu aku nonton harry Potter juga gitu.
                   Ceritanya sendiri bagus. Tapi, kalau di fi lm kelihatannya yang diambil yang
                   penting-penting saja. Kalau semua diambil, mungkin fi lmnya 10 jam kali, he....
                   he......”, tutur Wendi.

                    Nico, di sekolahnya dikenal sebagai salah satu siswa yang cerdas dan
              tergolong pendiam. Menurut pengakuannya, selain gemar membaca komik
              grafi s, ia juga gemar membaca novel yang realis, ceritanya diangkat dari
              kehidupan sehari-hari, seperti  Kambing Jantan  karya Raditya Dika, atau
              Tetraloginya Laskar Pelangi, karya Andrea Hirata. Menurut pengakuan Nico
              ia telah menghabiskan dan membaca semua buku tetralogi Laskar Pelangi
              karya Andrea Hirata, termasuk seri yang keempat, Mimpi-Mimpi Lintang,
              Maryamah Karpov. Nico, ketika diwawancarai mengaku bercita-cita menjadi
              dokter, sama seperti profesi yang ditekuni ayah-ibunya. Tetapi, meskipun ia
              bercita-cita menjadi dokter, bagi Nico aktivitas membaca komik atau novel
              yang ia gemari tetap tidak mungkin ditinggalkan, lantas ia semata hanya
              menghabiskan waktu untuk belajar. Bagi Nico, sepanjang ada waktu luang,
              maka membaca adalah pilihan aktivitas yang sulit ia abaikan begitu saja.
              Selain novel yang realis, Nico juga mengaku senang membaca majalah SLAM,
              sebuah majalah populer yang banyak mengekspose dunia perbasketan, satu
              jenis olahraga yang sangat ia gemari.
                    Sementara itu, Sekartika, seleranya kurang-lebih mirip dengan Nico.
              Menurut pengakuan Sekartika, ia tertarik membaca Laskar Pelangi dan jilid
              terusannya karena bacaan ini selain populer, isi ceritanya dianggap bagus
              karena mengilhami dirinya untuk terus berusaha. Bagi Sekartika, membaca
   101   102   103   104   105   106   107   108   109   110   111