Page 103 - index
P. 103
Perilaku Membaca untuk Kesenangan di Kalangan Remaja Urban 91
Mama pas jalan-jalan ke Tunjungan Plaza, aku mampir ke Gramedia untuk
beli......”, tutur Nona.
Para informan yang diwawancarai menyatakan, kalau mau jujur rasa-
rasanya memang gengsi kalau mereka dikatakan teman-temannya tidak
mengikuti perkembangan bacaan yang menarik. Minimal, ketika mereka
ngobrol dengan teman-temannya ketika makan di kantin pada saat istirahat
atau ketika jalan-jalan di hari Sabtu atau Minggu dengan teman-temannya,
rasanya ada yang kurang jika mereka tidak bisa ikut nimbrung ke arena
perbincangan yang sedang berlangsung. Bahkan, seperti diakui beberapa
informan, bahwa kalau mereka bisa terlebih dahulu membaca sebuah
buku dan kemudian menceritakan isinya kepada teman-temannya, atau
teman-temannya kemudian bertanya bagaimana kelanjutannya ceritanya,
sedikit-banyak hal itu terasa membanggakan. Meski mereka tidak eksplisit
mengakui, tetapi dari wawancara mendalam studi ini menemukan ada
“nada” bangga dan perasaan yang menyenangkan di hati informan yang
dikenal sebagai trend setter di kalangan teman-temannya.
Nadia, misalnya salah seorang informan yang dikenal “kutu buku”
di kalangan teman-temannya menceritakan bahwa beberapa hari setelah
fi lm Twilight diputar di berbagai gedung bioskop di Surabaya, ia langsung
pergi ke Periplus: membeli dan kemudian membaca hingga tuntas novel
Breaking Down, jilid keempat dari novel tetralogi karya Stephenie Meyer
yang saat ini memang tengah menjadi best seller. Teman-teman Nadia yang
lain, padahal ada sebagian yang baru menyelesaikan Twilight, jilid pertama
atau maksimal baru membaca New Moon atau menghabiskan Eclipse, jilid
ketiga dari tetralogi karya Stephenie Meyer. Breaking Down sendiri belum
diterbitkan dalam edisi Bahasa Indonesia, tetapi karena Nadia sangat
penasaran dengan ending cerita percintaan Edward dengan Bella, maka
ia pun dengan antusias membaca Breaking Down yang masih diterbitkan
dalam edisi aslinya yang berbahasa Inggris. Meski diakui membaca novel
dalam Bahasa Inggris lebih sulit dan menyita energi, karena acapkali harus
membuka kamus elektroniknya untuk mencari terjemahan kata-kata yang ia
tidak mengerti, tetapi bagi Nadia jerih-payah itu terasa sudah terbayar lunas
ketika mengetahui banyak teman-temannya yang belum membaca buku itu,
dan kemudian menjadikannya sebagai tempat untuk bertanya.

