Page 188 - index
P. 188

176                                       Membaca, Gaya Hidup dan Kapitalisme


              dan hal-hal yang menyenangkan. Lebih dari itu, aktivitas membaca untuk
              kesenangan digemari, karena di sana juga terlibat proses pemaknaan dan
              citra diri tentang cara bagaimana mereka harus menampilkan diri.
                    Herbert Mercuse, seorang pemikir dari Mazhab Frankfurt memandang
              bahwa yang disebut budaya massa pada hakekatnya adalah sumber
              alienasi manusia. Artinya, budaya massa mereduksi manusia pada moda
              eksistensi  to have dan bukan  to be. Mazhab ini menyatakan, kebudayaan
              populer umumnya hanya menghasilkan imajinasi-imajinasi menggantikan
              realitas yang sesungguhnya, menciptakan kesadaran palsu. Sementara itu,
              Postmodernisme seperti halnya Mazhab Frankfurt juga sepakat menyatakan
              bahwa imajinasi-imajinasi yang dihasilkan industri budaya kapitalisme
              sesungguhnya hanya merupakan salah satu metode pemasaran kapitalis
              untuk meraih pangsa pasar yang sebesar-besarnya (Adian, 2005: 196). Di mata
              konsumen, komoditas tidak lagi didefi nisikan berdasarkan kegunaannya,
              namun berdasarkan atas apa yang mereka maknai (lihat: Baudrillard, 2006:
              xxiii).

                    Seorang remaja urban, dengan cepat ia bisa tertarik dan masuk dalam
              proses komodifi kasi budaya, karena salah satu kekuatan dan daya tarik
              yang ditawarkan kekuatan industri budaya adalah pada citra dan konstruksi
              makna yang dibangun melalui kekuatan iklan. Yang dimaksud iklan di
              sini tentu bukan sekadar dalam bentuk pampangan billboard besar di ruas-
              ruas jalan raya, iklan di halaman koran atau majalah, atau iklan di sampul
              belakang sebuah buku. Iklan, yang dimaksud dalam studi ini adalah sesuatu
              yang inheren dalam produk budaya populer, merupakan satu kesatuan
              yang dikonstruksi sebagai sesuatu yang serba menyenangkan, serba keren,
              dan serba up to date. Seorang remaja yang memutuskan membeli novel atau
              komik grafi s tertentu, di sini yang menstimuli tentu bukan sekadar tampilan
              sampul dan kemasan yang atraktif, tetapi juga pesona nilai-nilai kedua yang
              ditawarkan, atau yang dalam istilah Mike Fatherstone disebut ersatz (lihat:
              Ever (ed.), 1988).
                    Bronwyn Beatty (2006), menyatakan bahwa dalam proses komodifi kasi
              fantasi dan imitatif universal, biasanya di sana akan terlihat ciri-cirinya
              yang khas: memiliki gaya naratif yang menarik, karakter yang heroik dan
              diidolakan, dan semua seringkali terasa akrab serta menyenangkan bagi
              konsumen. Beatty, lebih lanjut menyatakan bahwa novel  fi ksi  populer
   183   184   185   186   187   188   189   190   191   192   193