Page 186 - index
P. 186

174                                       Membaca, Gaya Hidup dan Kapitalisme


              dicapai anak-anak mereka, termasuk literasi mereka, ketertarikan literasi
              dan pengetahuan akan dunia Barat. Lebih penting lagi, membaca buku juga
              memberikan kepada mereka kapital budaya yang merupakan indikasi dari
              identitas kelompok. Kapital budaya ini adalah sumber daya simbolik tidak
              hanya untuk status kebanggaan diri pada keluarga kelompok menengah,
              tetapi juga untuk membentuk dan memperluas jaringan sosial yang
              mengarah kepada reproduksi kelompok sosial. Di kalangan remaja urban
              di Kota Surabaya, kecenderungan yang terjadi kurang-lebih sama. Dalam
              arti, remaja urban yang gemar membaca, mereka memilih bacaan bukan
              sekadar karena bacaan itu menarik, tetapi juga karena bacaan itu menjadi
              salah satu perlengkapan budaya yang menentukan bagaimana mereka
              seharusnya tampil dan membangun relasi sosial, terutama dengan anggota
              peer-groupnya.
                    Selama ini, industri budaya dalam prakteknya cenderung akan terus-
              menerus memperbaharui dan meningkatkan proses komodifi kasi budaya,
              sehingga dalam banyak kasus mengakibatkan terkonsentrasinya produksi
              budaya dalam industri hiburan (Lawrence & Phillips, 2002). Industri hiburan
              dan berbagai produk budaya populer tumbuh cepat secepat membaiknya
              teknik-teknik manajemen yang dikombinasikan dengan teknologi informasi
              untuk mempercepat komodifi kasi produksi massa, seperti fi lm, musik, dan
              bacaan atau produk lain yang terkait. Di berbagai toko buku besar seperti
              Gramedia, Gunung Agung atau kios majalah Terbit, dan lain sebagainya,
              studi ini menemukan bahwa hampir setiap hari atau maksimal dua hari
              sekali, selalu diterbitkan berbagai jenis bacaan baru yang ditawarkan kepada
              para pembaca, terutama remaja urban. Dibandingkan pembaca kategori usia
              yang lain, remaja dan anak tampaknya memang merupakan target utama
              dari produk budaya di bidang penerbitan. Hal ini, terlihat dari fakta bahwa
              dari berbagai produk budaya bacaan yang ditata di rak-rak buku, jumlah
              yang terbanyak adalah jenis bacaan yang ditujukan kepada remaja urban,
              seperti komik grafi s, novel fi ksi, majalah populer, dan sejenisnya.

                    Seorang remaja yang membeli dan membaca komik grafi s  serial,
              misalnya Shinchan, Detektif Conan, Naruto, atau yang lain, besar kemungkinan
              setiap ada kesempatan ia akan mencari jilid lanjutannya, hingga komik itu
              tamat. Demikian pula, ketika mereka sudah pernah membeli majalah populer
              seperti Animonster, Cinemax atau yang lain, maka dapat dipastikan setiap
   181   182   183   184   185   186   187   188   189   190   191