Page 184 - index
P. 184
172 Membaca, Gaya Hidup dan Kapitalisme
remaja urban yang menginginkan informasi khusus tentang komik grafi s
dan fi lm animasi, mereka biasanya akan mencari lewat majalah populer
Animonster. Di majalah ini, mereka bukan saja dapat mengetahui komik-
komik grafi s terbaru apa yang bakal terbit, tetapi juga komik mana yang
diangkat ke layar lebar, siapa pemerannya, dan apa pula genre cerita yang
ditampilkan.
Secara ringkas dapat dikatakan, bagi kalangan remaja urban, kehadiran
majalah populer tak sekadar sebagai bacaan infotainment, tetapi sekaligus
juga sebagai bagian dari produk industri budaya yang saling melengkapi
dan bahkan menjadi pemicu kecenderungan perilaku membaca remaja
urban yang lebih adiktif dan sinergistik.
5.5 BUDAYA MASSA DAN PERAN IKLAN
Dalam berbagai kajian Cultural Studies, telah sering dinyatakan bahwa
gaya hidup dan perilaku konsumen, audiens atau khalayak --yang dalam hal
ini adalah perilaku membaca untuk kesenangan remaja urban--, tidak bisa
lepas dari pengaruh perkembangan kekuatan industri budaya dan proses
komodifi kasi budaya yang mengkonstruksi selera, cita rasa, hasrat, dan juga
makna melalui hegemoni dan kekuatan budaya massa.
Seperti dikatakan Hesmondhalgh (2007), lebih dari sekadar jenis
produksi yang sifatnya kasat mata, industri budaya senantiasa terlibat di
dalam pembuatan dan peredaran produk budaya populer, yakni teks yang
memiliki pengaruh pada pemahaman kita akan dunia. Kenapa seorang
remaja urban senang membaca novel populer, juga “berburu” majalah
populer, membeli fi lm animasi, mengkoleksi merchandise, itu semua adalah
hasil konstruksi dari kekuatan industri budaya yang memang bertujuan
untuk menumbuhkan perilaku konsumsi yang berlebihan, sinergistik dan
berkelanjutan.
Dari kalangan pemikir Mazhab Frankfurt, Horkheimer dan Adorno,
adalah dua tokoh yang disebutkan pertama kali menggunakan istilah
industri budaya, dan menyatakan bahwa praktek keseluruhan industri
budaya umumnya mentransfer terang-terangan motif laba ke dalam bentuk
budaya (Agger, 2003). Di mata pelaku industri budaya di bidang penerbitan,
oleh sebab itu yang terpenting bukan pada bagaimana mereka bisa menjual

