Page 181 - index
P. 181
Perilaku Adiktif Membaca: Gaya Hidup dan Cita Rasa Remaja Urban 169
mengkoleksi bacaan tertentu yang menarik dan tengah populer. Sedangkan,
bagi remaja urban yang termasuk pembaca riil-adiktif biasanya tidak banyak
terpengaruh untuk mengembangkan perilaku konsumsi yang sinergistik,
karena bagi mereka yang terpenting adalah bagaimana dapat membeli
dan membaca berbagai jenis bacaan sebanyak-banyaknya, tanpa terdorong
atau terpengaruh untuk mengkonsumsi produk industri budaya lain yang
berkaitan. Sesekali membeli gantungan handphone bergambar salah satu
ikon yang diidolakan tetap dilakukan remaja urban yang tergolong pembaca
riil-adiktif. Namun, mereka biasanya tidak akan terus kecanduan untuk
“memborong” berbagai merchandise lain yang sifatnya tidak fungsional atau
sekadar sebagai hobi saja.
Di Jepang sendiri, menurut Alisson (2003), salah satu kekuatan produk
budaya Negari Sakura ini adalah pada kesamaan selera membaca, yang
diiringi dengan kemampuan untuk menumbuhkan emosi keakraban dan
kehangatan. Intimisasi dan komodifi kasi produk budaya dari Jepang telah
menjadi merchandizing karena telah berhasil menjual kegembiraan kepada
khalayak. Dengan didukung fi lm anime atau animasi bisa dipahami jika
populeritas komik Manga makin melambung, tidak hanya di negara asalnya,
tetapi juga di kalangan remaja urban di Kota Surabaya.
Studi ini menemukan, di kalangan kelompok remaja urban yang
tergolong pembaca pseudo-adiktif, bisa dikatakan mereka sesungguhnya
adalah massa yang tertipu daya dan “terperangkap” untuk tidak hanya gemar
membeli bacaan, tetapi juga tertarik untuk membeli berbagai merchandise
lain, di mana mereka sebenarnya tanpa sadar telah ditarik ke dalam jaringan
kapitalis, karena antusiasme mereka atas teks sedikit-banyak mencerminkan
dukungan tanpa kritik mereka terhadap dominasi industri budaya (Beatty,
2006). Mereka, seperti dikatakan pemikir dari Mazhab Frankfurt sejatinya
bukan warga tetapi konsumen (lihat: Strinati, 2007).
Selain komik Manga, dari hasil penelusuran di lapangan studi ini
menemukan industri penerbitan produk budaya yang belakangan juga
“digrandrungi” di kalangan remaja urban adalah komik-komik grafi s asal
Korea. Seolah hendak bersaing dengan meluasnya pemasaran komik Manga
asal Jepang, di berbagai toko buku dan kios belakangan ini juga banyak
beredar komik asal Korea yang dikemas dalam bentuk komik grafi s serial.
Komik grafi s asal Korea ini, cenderung makin populer, karena seperti

