Page 177 - index
P. 177

Perilaku Adiktif Membaca: Gaya Hidup dan Cita Rasa Remaja Urban        165


              cerita, tetapi seringkali juga dapat memperluas pengalaman membaca
              (Corna & Troilo, 2004).

                    Bagi kekuatan kapitalisme yang memproduksi budaya dalam skala
              massal, perilaku konsumsi yang sinergistik biasanya memang sengaja
              didorong perkembangannya, bukan saja untuk mendongkrak omzet
              penjualan, tetapi juga dalam rangka merangsang tumbuhnya perilaku
              konsumen yang makin loyal, makin adiktif, dan juga makin terdeferensiasi
              ke berbagai macam produk budaya yang makin renik, saling berkaitan dan
              mempengaruhi. Seorang remaja yang membeli bacaan, katakanlah komik
              grafi s Manga dari Jepang yang sedang populer, bagi industri budaya tentu
              akan lebih menguntungkan jika ia juga tertarik untuk membeli fi lm animasi
              yang terkait, membeli beberapa merchandise untuk dikoleksi seputar sosok
              tokoh yang menjadi ikon dalam cerita itu, atau hal-hal yang mencerminkan
              karakter tokoh dalam cerita, atau paling-tidak membeli berbagai asesoris lain,
              seperti gantungan handphone, tas atau dompet, dan lain-lain yang berkaitan.
              Demikian pula, ketika ada seorang remaja yang membaca sebuah novel fi ksi
              populer, seperti  Harry Potter, misalnya, maka yang diharapkan adalah ia
              juga tertarik untuk mengkoleksi berbagai merchandise yang terkait, seperti
              tas atau kaos bergambar  Harry Potter, bahkan jika perlu mainan tongkat
              sihir Harry Potter. Apakah produk budaya yang pertama kali dibeli bacaan
              dulu, kemudian merambah membeli merchandise yang lain, atau sebaliknya
              tertarik membeli salah satu jenis merchandise dulu, kemudian baru membeli
              fi lm dan bacaannya, tidaklah menjadi masalah, karena yang penting adalah
              berapa jumlah total komoditi budaya yang mereka beli, dan sejauhmana
              selera konsumen tersebut telah terdeferensiasi.
                    Menurut Howard (2006), selama ini telah sering terbukti bahwa
              televisi dan  fi lm secara dramatis dapat meningkatkan popularitas buku,
              demikian pula sebaliknya (Howard, 2006). Buku sendiri, sebagai bagian dari
              produk budaya sesungguhnya tidak sekadar bacaan, tetapi juga melibatkan
              pertunjukan fi lm, mainan, makanan di restoran cepat saji, dan lain-lain dalam
              pemasarannya. Produser fi lm anak-anak dari Walt Disney atau perusahaan
              fi lm yang lain, ketika mereka melempar sebuah fi lm kartun seperti Kungfu
              Panda, Madagascar, Pixar, Lion King, Pochahontas, atau yang lain, maka di saat
              yang sama mereka juga melempar penerbitan buku bacaan dan sekaligus
              menjalin kerjasama dengan perusahaan makanan cepat saji yang terkenal,
   172   173   174   175   176   177   178   179   180   181   182