Page 179 - index
P. 179
Perilaku Adiktif Membaca: Gaya Hidup dan Cita Rasa Remaja Urban 167
Selain Walt Disney dan Hollywood, dewasa ini kekuatan kapitalisme
yang sukses memasarkan berbagai produk budaya dan berhasil merangsang
tumbuhnya perilaku sinergistik–seperti diakui banyak pengamat--adalah
industri budaya dari Jepang. Kekuatan industri budaya di Jepang, tidak
hanya mampu bersaing dengan berbagai produk budaya asal Barat, dengan
memproduksi berbagai produk budaya, mulai dari komik Manga, game,
kartun dan berbagai merchandise lain, kekuatan industri di Jepang ini dalam
beberapa tahun terakhir juga terbukti mampu merebut hati konsumen,
khususnya anak-anak dan remaja untuk membeli berbagai produk industri
budaya mereka yang terkait. Menurut Anne Alison (2003), apa yang
membuat Jepang sukses menawarkan berbagai produk budayanya, bukan
sekadar bertumpu pada kekuatan teknologi dan manajemen bisnisnya,
tetapi juga apa yang disebut dengan kekuatan ekspresif (hyogenryoku) dari
para kreator industri budaya dari Jepang. Di bidang penerbitan, melalui
komik grafi s Manga, para kreator dan industri budaya dari Jepang bukan
saja mampu menawarkan berbagai ragam cerita yang berbeda-beda, tetapi
juga tokoh-tokoh yang menjadi ikon dengan sosok dan pendeskripsian yang
khas, dan sangat imajinatif.
Di luar industri penerbitan, berbagai produk budaya dari Jepang
seperti Pokemon, Hello Kitty, Tamagochi, fi lm kartun Sailor Moon, Power Ranger,
dan lain sebagainya kita ketahui adalah produk budaya yang popularitasnya
bahkan sudah jauh keluar dari batas negara Jepang sendiri. Ikon-ikon produk
budaya dari Jepang ini ditengarai bahkan sudah berekspansi ke berbagai
belahan dunia: dianggap sebagai ancaman terhadap dominasi Walt Disney,
seperti kehadiran komik Manga dari Jepang yang oplahnya terus naik hingga
lebih dari 400 persen. Keberhasilan industri budaya dari Jepang menggeser
dominasi Amerika Serikat, sedikit-banyak berkaitan dengan kelihaian
kekuatan kapitalisme di Jepang untuk mengemas produk budaya mereka
dalam satu paket yang saling mendukung secara sinergis.
Kalau dilihat dari segi jumlah, di berbagai toko buku kita sebetulnya
bisa melihat betapa banyaknya judul-judul buku yang dipamerkan dan
ditata rapi di rak-rak yang berderet-deret panjang. Tetapi, persoalannya
kemudian: kenapa dari sekian banyak bacaan yang ditawarkan, ternyata
hanya beberapa judul bacaan saja yang bisa mencapai best seller. Kenapa
sebuah judul bacaan digemari para remaja urban, dan kenapa pula yang

