Page 180 - index
P. 180
168 Membaca, Gaya Hidup dan Kapitalisme
lain tidak? Jawaban atas pertanyaan ini, memang akan banyak berkaitan
dengan kemampuan kekuatan industri budaya untuk melakukan proses
komodifi kasi budaya dan sekaligus mendorong perkembangan perilaku
konsumsi yang sinergistik. Kehadiran komik Manga, harus diakui telah
menjadi pilihan alternatif tersendiri yang tak kalah menarik dibandingkan
produk budaya dari Barat bagi remaja urban. Terlebih ketika kehadiran
komik itu ternyata juga dilengkapi dengan kehadiran fi lm-fi lm animasi
yang sangat atraktif dan didukung pula dengan tawaran berbagai barang
merchandise yang menggemaskan serta lucu untuk disimpan sebagai benda
koleksi pribadi atau untuk hadiah ulang tahun teman.
Ketika melakukan perilaku konsumsi sinergistik, yaitu membeli dan
membaca buku, menonton fi lm, mengkoleksi mainan, kostum, CD, video
game, melakukan penelusuran di situs web interaktif dan lain sebagainya,
para pembaca muda menurut Erni (2006) biasanya akan mengharapkan
dirinya dalam keadaan hiperaktif untuk relevansi, analogi, dan kesesuaian
budaya. Seorang remaja urban yang merupakan penggemar berat fi lm
dan novel Harry Potter dalam penelitian ini menuturkan, ketika liburan ke
Australia tahun lalu, tepatnya ketika ia berlibur di Movie World di Gold Coast,
ia mengaku dengan antusias membeli berbagai pernik seputar Harry Potter,
seperti tongkat sihir, kalung, kaos dan juga gantungan kunci bergambar
Daniel Radcliffe aktor pemeran Harry Potter. Ketika edisi terbaru Harry Potter
dilaunching, ia mengaku juga ikut mengantri di toko buku Gramedia, agar
dapat memperoleh edisi lux novel Harry Potter untuk ia baca dan koleksi.
Remaja jenis ini, cenderung mengembangkan perilaku konsumsi yang
sinergistik karena di mata mereka membeli berbagai produk merchandise itu
selain menyenangkan sebagai barang koleksi, juga membuat imajinasi dan
kecanduan mereka terhadap cerita dan tokoh-tokoh cerita yang dikemas
industri budaya itu menjadi terasa lebih dekat dan personal.
Studi ini menemukan, bagi remaja urban yang termasuk pembaca yang
pseudo-adiktif, biasanya cenderung mengembangkan perilaku konsumsi
yang sinergistik, dalam arti mereka tidak hanya menggemari jenis bacaan
tertentu yang tengah populer, tetapi juga terdorong untuk mengkonsumsi
merchandise dan produk-produk industri budaya lain yang berkaitan.
Remaja kategori ini bahkan seringkali lebih mementingkan mengkoleksi
merchandise yang digemarinya daripada membaca hingga tuntas atau

