Page 39 - index
P. 39
Perspektif Cultural Studies dan Studi-studi Terdahulu Tentang ... 27
aktivitas budaya yang memiliki makna tersendiri, dibentuk oleh industri
budaya, namun sekaligus juga bersifat individual.
Dalam berbagai kajian yang telah dilakukan, Cultural Studies
biasanya mengeksplorasi kebudayaan sebagai praktik pemaknaan dalam
konteks kekuatan sosial. Dalam melakukan hal ini, Cultural Studies di
antaranya mengambil dari teori-teori, termasuk Marxisme, Strukturalis,
Poststrukturalis, Feminisme dan Postmodernisme. Dengan metode eklektis,
Cultural Studies menyatakan posisionalitasnya pada semua pengetahuan,
termasuk pengetahuannya sendiri, yang menyatu di sekitar ide-ide kunci
kebudayaan, praktik pemaknaan, representasi, diskursus, kekuasaan,
artikulasi, teks, pembaca dan konsumsi (Barker, 2004: 36). Pilihan seseorang
atas jenis bacaan tertentu, kapan ia menyempatkan waktu untuk membaca,
bagaimana karakter dan siapa tokoh idola yang digemari, dan lain
sebagainya, menurut perspektif Cultural Studies bukan sekadar pilihan yang
didorong pertimbangan selera pribadi, tetapi dibentuk dan dipengaruhi
oleh berbagai faktor yang sedikit-banyak berkaitan dengan kapitalisme
dan cara kapitalisme merepresentasikan ke massa. Jadi, membaca, menurut
perspektif Culture Studies adalah sebuah aktivitas sosial yang dikonstruksi,
tetapi sekaligus juga berkembang sebagai bagian dari proses dialektika.
Budaya dalam Cultural Studies lebih didefi nisikan secara politis
ketimbang secara estetis (Storey, 2007: 2). Objek kajian dalam Cultural
Studies bukanlah budaya yang didefi nisikan dalam pengertian yang sempit,
yakni sebagai objek keadiluhungan estetis, juga bukan budaya yang
didefi nisikan dalam pengertian sebagai bagian dari proses perkembangan
estetik, intelektual dan spiritual, melainkan budaya yang dipahami sebagai
teks dan praktik hidup sehari-hari. Yang dimaksudkan teks di sini bukan
hanya menunjuk pada kata-kata tertulis, meski ini adalah salah satu
indranya, melainkan semua praktik yang memiliki makna. Ini termasuk
pembentukan makna melalui berbagai citra, bunyi, objek, seperti pakaian
atau buku, misalnya, dan aktivitas lain, termasuk aktivitas mengisi
waktu luang. Seperti dikatakan Barker (2004: 11), citra, bunyi, objek dan
aktivitas pada dasarnya merupakan sistem tanda, yang memaknai dengan
mekanisme yang sama dengan bahasa, sehingga kita dapat menunjuknya
sebagai teks budaya. Makna diproduksi dalam interaksi antara teks dan
pembacanya, sehingga momen konsumsi juga merupakan momen produksi

