Page 42 - index
P. 42

30                                        Membaca, Gaya Hidup dan Kapitalisme


              Mazhab Frankfurt banyak menyumbang berbagai pemikiran tentang
              dampak perkembangan industri budaya dan hegemoni yang dikonstruk
              oleh kekuatan kapitalisme, sedangkan Postmodernisme lebih jauh mencoba
              mengkaji apa terjadi pada dan di balik kehidupan masyarakat postmodern:
              menawarkan intermediasi daripada determinasi, perbedaan (diversity)
              daripada persatuan (utility), dan kompleksitas daripada simplifi kasi
              (Rosenau, 1992, dalam: Ritzer, 2003: 20).

                    Baudrillard, adalah salah satu tokoh yang mengembangkan perspektif
              tentang Postmodernitas yang memadukan aspek teori Postmodern Perancis
              dan Teori Kritis Jerman. Pandangan Baudrillard tentang masyarakat simulasi
              dan  hiperrealitas menyediakan dasar bagi  Cultural Studies yang tergabung
              dalam Teori Sosial Kritis. Baudrillard menyatakan bahwa postmodernitas
              bergerak di atas mode produksi ke dalam mode simulasi dan informasi
              yang menyingkirkan proses kekuasaan dari semata-mata produksi menjadi
              informasi dan hiburan (Agger, 2003: 284). Di era global seperti sekarang
              ini ketika suatu perusahaan penerbitan mencetak jutaan eksemplar buku
              bacaan, ia biasanya bukan sekadar menawarkan buku sebagai bacaan
              di waktu senggang, tetapi yang dilakukan adalah merangkai buku yang
              diterbitkan dalam sebuah paket produk kapitalis yang dirangkai dengan
              produk-produk budaya lain yang saling bersinergi: fi lm, majalah, kostum,
              merchandise dan lain-lain.

                    Dari berbagai kajian yang telah dilakukan, para penganut perspektif
              Cultural Studies umumnya sepakat bahwa di era masyarakat modern atau
              postmodern, peran informasi menjadi sangat strategis, terutama dalam
              membentuk gaya hidup, selera, dan juga cita rasa melalui iklan dan berbagai
              media massa (lihat: Agger, 2003; Strinati, 2007; Storey, 2007). Berbagai momen
              budaya, seperti produksi, representasi, identitas dan konsumsi, termasuk
              perilaku membaca tidak dilihat sebagai momen yang terpisah-pisah, tetapi
              saling terkait (interkoneksi) dan saling tergantung (interdepedensi). Sekadar
              contoh: ketika di masyarakat  booming buku  Harry Potter, misalnya, maka
              yang terjadi adalah bagaimana kekuatan kapital bekerjasama dengan
              teknologi informasi serta iklan dan pasar bukan hanya mencetak puluhan
              juta buku serial  Harry Potter, tetapi juga  fi lm yang spektakuler, asesori,
              pakaian, dompet, boneka, program wawancara di televisi, berita di majalah
   37   38   39   40   41   42   43   44   45   46   47