Page 47 - index
P. 47

Perspektif Cultural Studies dan Studi-studi Terdahulu Tentang ...       35


              dibaca secara cepat, bergerak dari pertunjukan ke pertunjukan, sehingga
              menyembunyikan kesan bahwa yang ditayangkan televisi atau apa
              yang dipaparkan di media massa bukanlah teks, melainkan dunia yang
              dipresentasikan tanpa bias.
                    Teoritisi budaya Marxis memperlakukan budaya, seperti televisi,
              media massa, fi lm, iklan dan buku sebagai wilayah ekonomis dan ideologis,
              yang melibatkan kesadaran, wacana dan konsumsi. Mereka sepakat dengan
              Marx bahwa kapitalisme membutuhkan ideologi dalam menciptakan
              kesadaran palsu, sehingga orang tidak dapat mengenali ketidakadilan
              sejati kapitalisme. Namun, yang agak sedikit berbeda adalah mereka
              beranggapan bahwa masyarakat tidak dapat lagi menunda pembebasan
              sampai kehidupan setelah mati dan mengabaikan kepuasan duniawi.
              Manusia harus menyediakan tempat bagi kebahagiaan individual, baik
              yang bersifat okupasional (kerja) maupun rekreasional. Ideologi, dalam hal
              ini produk-produk budaya kapitalis harus menjanjikan relaksasi manusia
              yang tengah berada di bawah tekanan yang pernah memerintah kehidupan
              personal dan publik mereka. Ideologi, harus memberikan kemungkinan
              kepada masyarakat dalam mengalami desublimasi (Agger, 2003: 251).
                    Salah satu ciri yang menonjol dari produk budaya massa adalah
              tawaran kesenangan, fantasi dan menghibur. Terlepas, apakah budaya
              pop adalah budaya komersial dampak dari produksi massal, tetapi budaya
              pop pada dasarnya merupakan budaya yang menyenangkan dan banyak
              disukai orang karena cirinya yang menghibur, menyenangkan dan mampu
              mengembangkan imajinasi. Sebagai bagian dari budaya massa, budaya
              pop acapkali dianggap sebagai dunia impian kolektif, memberi ruang bagi
              eskapisme yang bukan hanya lari dari atau ke tempat tertentu, tetapi pelarian
              dari utopia kita sendiri. Budaya pop sendiri biasanya muncul bersamaan
              dengan terjadinya proses industrialisasi dan urbanisasi (lihat: Storey, 2003:
              17-23).

                    Persoalan apakah tawaran kesenangan dan berbagai fantasi yang
              dikemas benar-benar akan terus bertahan lama di benak masyarakat atau
              hanya sepintas layaknya mode, hal itu hingga sekarang masih menjadi
              polemik yang tak kunjung selesai. Marcuse (1968), misalnya menyatakan
              bahwa budaya pop merupakan mode ideologi kapitalis akhir yang tidak
              menawarkan doktrin yang tak terbantahkan atau tesis tentang keniscayaan
   42   43   44   45   46   47   48   49   50   51   52