Page 50 - index
P. 50
38 Membaca, Gaya Hidup dan Kapitalisme
dikembangkan sebagai hasil dari interaksi antara disposisi habitus dengan
batas serta berbagai kemungkinan realitas. Dengan gaya hidup individu
menjaga tindakan-tindakannya dalam batas dan kemungkinan tertentu.
Berdasarkan pengalaman sendiri yang diperbandingkan dengan realitas
sosial, individu memilih rangkaian tindakan dan penampilan mana yang
menurutnya sesuai dan mana yang tidak sesuai untuk ditampilkan dalam
ruang sosial (Adlin (ed.), 2006: 53-54).
Gaya hidup oleh berbagai ahli sering disebut merupakan ciri sebuah
dunia modern atau modernitas. Artinya, siapa pun yang hidup dalam
masyarakat modern akan menggunakan gagasan tentang gaya hidup untuk
menggambarkan tindakannya sendiri maupun orang lain. Gaya hidup
adalah pola-pola tindakan yang membedakan satu orang dengan yang lain
(Chaney, 2004: 40). Istilah gaya hidup, baik dari sudut pandang individual
maupun kolektif, mengandung pengertian bahwa gaya hidup sebagai cara
hidup mencakup sekumpulan kebiasaan, pandangan dan pola-pola respons
terhadap hidup, serta terutama perlengkapan untuk hidup. Cara sendiri
bukan sesuatu yang alamiah, melainkan hal yang ditemukan, diadopsi atau
diciptakan, dikembangkan dan digunakan untuk menampilkan tindakan
agar mencapai tujuan tertentu. Untuk dapat dikuasai, cara harus diketahui,
digunakan dan dibiasakan (Donny Gahral Adian, dalam: Adlin (ed.), 2006:
37).
Dalam kehidupan sehari-hari, menurut Piliang (dalam: Adlin, 2006:
71), selalu ada hubungan timbal-balik dan tidak dapat dipisahkan antara
keberadaan citra (image) dan gaya hidup (life style). Gaya hidup adalah cara
manusia memberikan makna pada dunia kehidupannya, membutuhkan
medium dan ruang untuk mengekspresikan makna tersebut, yaitu ruang
bahasa dan benda-benda, yang di dalamnya citra mempunyai peran yang
sangat sentral. Di pihak lain, citra sebagai sebuah kategori di dalam relasi
simbolik di antara manusia dan dunia objek, membutuhkan aktualisasi
dirinya ke dalam berbagai dunia realitas, termasuk gaya hidup.
Seseorang yang memutuskan untuk membeli dan membaca buku,
misalnya, apakah ia melakukan karena semata didorong kebutuhan
untuk membelanjakan uangnya, ataukah lebih didorong keinginan
untuk membuktikan bahwa ia paham isu-isu kekinian? Ketika seseorang

