Page 53 - index
P. 53

Perspektif Cultural Studies dan Studi-studi Terdahulu Tentang ...       41


              ditawarkan di balik sebuah produk, ketimbang fungsi utilitas sebuah produk
              (Piliang, 2003: 287). Iklan, dalam pandangan Cultural Studies menjadi bagian
              yang tak terpisahkan dari penciptaan gaya hidup. Iklan menjadi perumus
              gaya hidup (Piliang, 2003: 290).
                    Pertanyaannya sekarang: apakah benar konsumen selalu bersikap pasif
              dan menjadi korban ideologi kapitalis yang senantiasa mengembangkan
              gaya hidup sesuai kehendak pasar? Meski diakui para teoritikus dari
              Mahzab Frankfurt dan sebagian tokoh dari aliran Postmodern bahwa
              pengaruh industri budaya dan kekuatan iklan dalam batas-batas tertentu
              terbukti mampu mengkonstruk selera, cita rasa, dan gaya hidup konsumen
              (lihat: Agger, 2003). Tetapi, dalam perkembangannya kemudian ternyata
              diakui bahwa hegemoni dan proses komodifi kasi budaya yang dilakukan
              industri budaya ternyata tidak selalu mampu mengkonstruksi dan
              menentukan terbentuknya selera dan cita rasa konsumen. Istilah budaya
              konsumen, sebagaimana dikatakan Mike Fatherstone (1985), tidak diartikan
              sebagai suatu penilaian yang berbicara tentang sifat pasif konsumen yang
              digiring dan serba mudah diatur. Budaya konsumen, bagaimana pun tetap
              membuka kemungkinan untuk konsumsi produktif, dalam arti menjanjikan
              kehidupan pribadi yang indah dan memuaskan: menemukan kepribadian
              melalui perubahan diri dan gaya hidup yang berbeda-beda, bahkan khas
              (Evers, 1988: 53). Gaya bukanlah ekspresi lokasi kelas, ia adalah sistem yang
              menandai, yang mengkomunikasikan identitas kultural dan perbedaan
              kultural (Storey, 2007: 153).

                    Piere Bourdieu yang mengkaji secara rinci mengenai pola konsumsi
              dan gaya hidup, seperti makanan, musik, buku bacaan, surat kabar, majalah
              dan lain sebagainya, menyatakan bahwa ekonomi barang budaya memiliki
              logika dan otonomi tersendiri: lepas dari determinisme dan memiliki
              otonomi dalam membentuk tingkat dan perbedaan selera (lihat: Evers,
              1988: 60). Khalayak pembaca, misalnya, jelas bukanlah kelompok yang
              serba homogen. Masing-masing memiliki hasrat yang berbeda, selera yang
              beragam dan juga cita rasa yang tidak selalu harus sama. Dalam skala yang
              terbatas, mungkin benar bahwa selera konsumen terhadap jenis bacaan
              yang populer dikonstruksi atau merupakan hasil bentukan kekuatan
              kapitalis yang dipopulerkan lewat kekuatan iklan dan tawaran gaya hidup
              yang menggoda. Tetapi, yang namanya pembaca, bagaimana pun tetap
   48   49   50   51   52   53   54   55   56   57   58