Page 56 - index
P. 56
44 Membaca, Gaya Hidup dan Kapitalisme
seperti inilah, pada akhirnya bisa dipahami jika menjadi sasaran atau target
yang potensial bagi produk-produk budaya massa yang mereka hasilkan.
Seorang pengarang yang jenius seperti JK Rowling, yang mampu
menuangkan ide-ide “liar” dan penuh imajinasi ke dalam buku serial
seperti Harry Potter, dengan cepat buku khalayalannya itu akan diterima
para remaja, karena memang secara psikologis satu dengan yang lain saling
bertautan. Menurut data yang ada, buku Harry Potter (2007) telah terjual 400
juta eksemplar dan diterbitkan di seluruh dunia dalam 65 bahasa. Buku seri
ketujuh harry Potter, hanya dalam waktu 24 jam bahkan dilaporkan telah
terjual hingga 12 juta eksemplar (lihat: Houghton, 2007). Hal yang sama juga
terjadi pada buku-buku lain yang menakjubkan pikiran para remaja, seperti
buku Goldern Compass, Lord of The Rings, Narnia, atau buku lain yang sejenis.
Dengan membaca secara sukarela, para remaja akan dapat mengembangkan
konsep kemungkinan diri, yakni memikirkan tentang potensi diri dan masa
depannya, menggambarkan ide-ide tentang “diri ideal” di mana mereka
ingin menjadi bagiannya di tengah keadaan rasa takut dan fantasi individu
(lihat: Richardson, & Eccles, 2007).
Yang menjadi persoalan sekarang adalah: kenapa tidak semua buku
yang imajinatif dan fantastis dapat dengan cepat diterima para remaja?
Kenapa buku-buku seperti Harry Potter, Golden Compass, Narnia, dan lain
sebagainya oplahnya baru melonjak pesat setelah buku-buku itu diangkat
menjadi tayangan fi lm ala Hollywood yang mempesona itu?
Bagi para remaja urban, kegiatan membaca buku bukanlah sekadar
kegiatan membaca tulisan dan memanjakan fantasi atau imajinasi mereka.
Tetapi, seperti disinggung di atas, bagi para remaja urban kegiatan membaca
tampaknya adalah bagian dari aktivitas bersenang-senang (pleasure),
sekaligus simbol status dan gaya hidup. Seperti disinggung di muka, seorang
remaja yang gagap ketika diajak bicara temannya tentang cerita Harry Potter,
siapa tokoh yang memerankannya, dan lain sebagainya, tidak mustahil ia
akan merasa kuper, atau bahkan minder. Di kalangan remaja, perbincangan
tentang buku-buku populer yang menjadi kegemaran mereka, sering
menjadi media bagi mereka untuk menjalin komunikasi yang lebih intens
dan personal satu dengan yang lain.

