Page 57 - index
P. 57

Perspektif Cultural Studies dan Studi-studi Terdahulu Tentang ...       45


                    Seperti dikatakan Erickson (1968), seorang remaja bukan sekadar
              mempertanyakan dirinya sendiri, tetapi bagaimana dan dalam konteks
              apa atau dalam kelompok apa dia bisa menjadi bermakna dan dimaknakan
              (lihat: Agustiani, 2006: 33). Artinya, seorang remaja yang tidak mengerti
              apa-apa tentang buku-buku populer yang tengah beredar di pasaran, besar
              kemungkinan ia akan tersisih dalam suasana perbincangan peer-groupnya,
              karena merasa tidak memiliki bekal yang cukup untuk ikut nimbrung dalam
              topik-topik hangat yang didiskusikan teman-temannya.

                    Bagi remaja yang tak ingin ketinggalan jaman, oleh sebab itu mem-
              baca buku-buku populer belakangan ini tampaknya tidak lagi merupakan
              aktivitas yang membosankan dan dilakukan dengan terpaksa. Sudah lazim
              terjadi, di waktu luang mereka, maka para remaja urban itu akan meman-
              faatkannya dengan membaca buku-buku yang menarik hati dan fungsional
              untuk menunjang modal serta kesempatan mereka terlibat perbincangan
              yang menyenangkan dengan sesamanya. Secara teoritis, bersenang-senang
              memainkan peran yang sangat penting bagi proses pembentukan identitas
              remaja (Campbell, 2007).
                    Sebagaimana dijelaskan dalam Teori Afi rmasi, bahwa individu
              membentuk citra dirinya melalui umpan balik yang diterima dari
              perilakunya maupun perilaku orang lain. Identitas seseorang berkembang
              dari citra tersebut ketika umpan balik dari dirinya dan orang lain terjadi
              secara konsisten. Bersenang-senang memberikan konteks di mana individu
              mampu meng-afi rmasi dirinya sendiri. Melalui partisipasi dan bersenang-
              senang, individu mampu meng-afi rmasi identitas untuk dirinya sendiri
              sekaligus mengekspresikan identitas tersebut ke orang lain (Haggard &
              Williams, 1992).

                    Dalam konteks studi tentang reading for pleasure, menurut Moje (2000),
              praktek literasi “tanpa sanksi”, di mana seorang remaja melakukan aktivitas
              membaca demi kesenangan, maka di saat itu pula aktivitas membaca
              itu akan berperan dalam perkembangan diri: melakukan eksplorasi,
              kontemplasi dan pengalaman kemungkinan diri serta menggambarkan
              dunia di mana mereka memiliki signifi kansi (lihat: Mercer (eds.). 2007).
              Ringkas kata, bagi para remaja urban yang dinamis dan tengah mencari
              jati diri, aktivitas membaca boleh dikata adalah salah satu dari cara mereka
              untuk beraktualisasi diri, mengembangkan  performance, dan sekaligus
   52   53   54   55   56   57   58   59   60   61   62