Page 60 - index
P. 60

48                                        Membaca, Gaya Hidup dan Kapitalisme


              era pasar bebas seperti sekarang telah terkomodifi kasi, menjadi komodifi kasi
              fantasi, baik dalam hal naratif maupun penjualan barangnya (Beatty, 2006). Kita
              bisa melihat, sebuah bacaan, ketika difi lmkan, maka yang terjadi kemudian
              adalah komodifi kasi. Artinya, daftar barang jualannya akan makin luas dan
              bervariasi, mulai dari perhiasan, logo, video game, catur, t-shirt, mainan anak,
              kostum, koleksi perangko dan poster, termasuk pula benda-benda memorabilia
              yang sangat mahal: replika dari berbagai peralatan yang ditampilkan di fi lm
              hasil adaptasi dari buku bacaan yang terkenal, seperti Lord of the Rings, Harry
              Potter, atau bacaan yang lain niscaya akan diburu penggemarnya meski dengan
              harga yang mahal sekalipun.

                    Di masyarakat konsumer, salah satu bentuk perilaku konsumsi
              yang muncul adalah apa yang disebut konsumsi sinergistik (synergistic
              consumption), yaitu gabungan dari sekian banyak aktivitas leisure, hobi, dan
              perilaku keranjingan, seperti membaca buku, menonton fi lmnya, membeli
              mainannya, memakai kostum, membeli CD, video game, dan menelusur
              web interaktif (John Nguyet Erni, 2006). Banyak bukti telah menunjukkan
              bahwa televisi dan  fi lm secara dramatis dapat meningkatkan popularitas
              buku, demikian pula sebaliknya (Howard, 2006; McCracken, 1998: 19-24).
              Buku sendiri, sebagai bagian dari produk budaya sesungguhnya tidak
              sekadar bacaan, tetapi juga melibatkan pertunjukan fi lm, mainan, makanan
              di restoran cepat saji, dan lain-lain.

                    Apakah kegemaran atau bahkan perilaku keranjingan terhadap buku
              bacaan berikut berbagai asesorisnya selalu merupakan implikasi dari cara
              kerja industri budaya? Jawaban atas pertanyaan ini di kalangan ahli yang
              menekuni Cultural Studies boleh dikata masih terbelah dua. Berbeda dengan
              Mazhab Frankfurt, Tonny Bennett dan Janet Woollacott (1987), misalnya
              menampik pandangan bahwa teks-teks fi ksi populer tak lebih dari sekadar
              wadah-wadah ideologi, sebuah alat yang menyenangkan dan senantiasa
              berhasil mentransmisi ideologi dominan dari industri budaya kepada massa
              yang dikorbankan termanipulasi. Kedua ahli ini menyatakan bahwa fi ksi
              populer merupakan suatu ruang spesifi k, dengan ekonomi ideologisnya
              sendiri yang menyediakan serangkaian wacana dan wacana tandingan
              yang berubah-ubah secara historis, kompleks dan kontradiktif yang harus
              dihidupkan dalam kondisi pembacaan tertentu. Meski demikian Bennett
   55   56   57   58   59   60   61   62   63   64   65