Page 51 - index
P. 51

Perspektif Cultural Studies dan Studi-studi Terdahulu Tentang ...       39


              mengkonsumsi sesuatu, bukan sekadar karena ingin membeli fungsi pertama
              atau fungsi inheren dari produk yang dibelinya itu, tetapi sebetulnya ia juga
              berkeinginan untuk membeli fungsi sosial yang lain yang disebut Adorno
              (1960) sebagai ersatz, nilai pakai kedua sebuah produk (lihat: evers, 1988).
              Artinya, seseorang membeli buku, tidak selalu karena ia ingin membaca,
              tetapi bisa juga karena didorong tujuan-tujuan sosial yang lain: prestise,
              kepentingan untuk memperoleh modal sosial sebagai tiket menjalin relasi
              dengan  peer-groupnya, dan lain sebagainya. Seperti dikatakan Adorno,
              bahwa komodifi kasi budaya atau kebudayaan yang diindustrialisasikan
              –yang dirancang berdasarkan kalkulasi-kalkulasi keuntungan— hanya
              akan menghasilkan penipuan massa (lihat: Ibrahim (ed.), 2004: 328). Di era
              kapitalisme akhir, membeli barang sesungguhnya juga berarti membeli
              kesan dan pengalaman, dan kegiatan berbelanja bukan lagi suatu transaksi
              ekonomi sederhana, melainkan lebih merupakan interaksi simbolis di mana
              individu membeli dan mengkonsumsi kesan.

                    Gaya hidup selalu berkaitan dengan upaya untuk membuat diri
              eksis dalam cara tertentu dan berbeda dari kelompok lain. Di sini ada
              suatu perilaku konsumsi yang merupakan imbas postmodern, di mana
              orang berada dalam kondisi selalu dahaga, dan tak terpuaskan. Suatu pola
              konsumsi yang dengan cerdik dibangkitkan oleh produsen,  gatekeeper,
              melalui pencitraan yang menjadi titik sentral sebagai perumus hubungan.
              Citra kemudian menjadi bahasa komunikasi sosial di dalam masyarakat
              konsumen, yang di dalamnya telah diciptakan klasifi kasi dan perbedaan
              sosial menurut kelas, status, dan selera. Di sini konsumen dikonstruksi
              untuk membeli citra ketimbang produk: citra yang mampu membuat tampak
              berbeda dan mengalami kebernilaian dalam keberbedaan itu. Dalam istilah
              pemasaran hal ini biasanya dikonseptualisasikan dalam strategi positioning
              dan diferensiasi (Audifax, dalam: Adlin, 2006: 109). Pierre Bourdieu (1984),
              menyatakan bahwa konsumsi budaya cenderung, sadar dan disengaja atau
              tidak, mengisi suatu fungsi sosial berupa melegitimasi perbedaan-perbedaan
              sosial (Storey, 2007: 145). Konsumsi adalah suatu proses perubahan yang
              secara historis dikonstruksi secara sosial. Gagasan bahwa konsumsi telah
              menjadi fokus utama kehidupan sosial dan nilai-nilai kultural mendasari
              gagasan lebih umum dari perkembangan kajian tentang masyarakat dan
              budaya konsumen.
   46   47   48   49   50   51   52   53   54   55   56