Page 48 - index
P. 48

36                                        Membaca, Gaya Hidup dan Kapitalisme


              dan rasionalitas masyarakat kini, namun hanya menyediakan narkotika
              jangka pendek yang mengalihkan perhatian orang dari masalah riil
              mereka dan mengidealisasikan masa kini dengan menjadikan pengalaman
              representasi yang menyenangkan (Agger, 2003: 180-181).
                    Sementara itu, Ben Agger (2003), meski tidak melihat budaya populer
              sebagai ancaman bagi kemanusiaan karena dominasi dan hegemoni yang
              mereka lakukan sebagai bagian dari industri budaya. Tetapi, ia sepakat
              dengan Adorno, Horkheimer dan Marcuse bahwa industri budaya telah
              menjadi faktor ekonomis dan politis yang krusial pada masa kapitalisme
              akhir, yang mampu mengalihkan perhatian orang dari masalah yang
              sebenarnya mereka alami, menawarkan solusi palsu yang diproyeksikan ke
              dalam “kehidupan” karakter fi ktif dan terkodekan ke dalam harmoni musik,
              cerita fi lm, atau buku (Agger, 2003: 184).

                    Menurut perspektif  Cultural Studies, membeli dan membaca buku,
              seperti juga kegiatan konsumsi yang lain, selalu lebih dari sekadar aktivitas
              ekonomi, mengkonsumsi produk atau menggunakan komoditas untuk
              memuaskan kebutuhan-kebutuhan material, tetapi lebih dari itu aktivitas
              ini juga berhubungan dengan mimpi, hasrat, identitas dan komunikasi atau
              dalam istilah Cultural Studies disebut bagian dari budaya pop (Storey, 2007:
              169). Bagi orang per orang, aktivitas budaya dan produk budaya adalah dua
              hal yang bersifat mendua: di satu sisi terjadi seragamisasi, tetapi di saat yang
              sama juga menjadi bagian dari wilayah private orang per orang yang tidak
              selalu harus sama seperti yang lain.
                    Komoditi-komoditi yang dihasilkan industri budaya, termasuk bacaan,
              secara umum memang diarahkan oleh kebutuhan untuk menyadari nilainya
              di pasaran. Motif keuntungan menentukan sifat berbagai bentuk budaya.
              Secara industrial, produksi budaya merupakan sebuah proses standarisasi
              di mana produk-produk tersebut mendapatkan bentuk yang sama pada
              semua komoditas. Akan tetapi, produksi budaya itu juga menganugrahkan
              suatu rasa individualitas dalam artian bahwa setiap produk mempengaruhi
              “suasana individual”. Perekatan individualitas pada setiap produk budaya
              ini, dan juga tentunya pada setiap konsumen, berfungsi untuk menggaburkan
              standarisasi dan manipulasi kesadaran yang dipraktikkan oleh industri
              budaya. Ini berarti semakin banyak produk kultural yang distandarisasi, di
   43   44   45   46   47   48   49   50   51   52   53