Page 44 - index
P. 44

32                                        Membaca, Gaya Hidup dan Kapitalisme


              gambaran dunia sekaligus tindakan semacam pelaporan. Lebih penting lagi,
              semua itu membantu manusia membentuk  inner-nya, kehidupan pribadi
              dan kehidupan publik: fantasi, emosi, dan identitas sosial (Hesmondhalgh,
              2007).
                    Industri budaya, menurut Mazhab Frankfurt, membentuk selera
              dan kecenderungan massa, sehingga mencetak kesadaran mereka dengan
              cara menanamkan keinginan mereka atas kebutuhan-kebutuhan palsu.
              Dua ciri utama yang menandai industri budaya adalah standarisasi dan
              individualisme semu. Seperti dikatakan Adorno dan Horkheimer (1979),
              bahwa produk budaya adalah komoditas yang dihasilkan oleh industri
              budaya yang meski demokratis, individualis dan beragam, namun pada
              kenyataannya otoriter, konformis, dan sangat terstandarisasikan: merupakan
              kultur kapitalis yang seolah menawarkan keberagaman tapi sebetulnya
              menghemoni (Barker, 2004: 47). Yang dimaksud kultur kapitalis di sini,
              tak lain merupakan bentuk manipulasi dan penguasaan, yang secara total
              meresapi struktur psikis dan sosial (Beilharz, 2002: 147). Konstruksi, selera,
              dan juga cita rasa masyarakat, termasuk terhadap buku bacaan, biasanya
              tanpa sadar akan terbentuk dan dibentuk oleh kekuatan pasar, sehingga
              yang terjadi adalah hegemoni budaya dan konsumsi.
                    Di era pasar global yang didominasi kekuatan kapitalisme, sifat
              kapitalisme akan membawa masyarakat menjadi massa, artinya masyarakat
              dilebur dari batas-batas tradisionalnya menjadi satu massif konsumsi
              (Sunardi, dalam: Strinati, 2007: xv). Ketika persaingan antar kekuatan
              kapital makin ketat dan masing-masing berusaha mencari ceruk pasar
              baru dan berusaha memaksimalkan produksi serta keuntungan, maka
              yang terjadi adalah bagaimana mereka mencari peluang pasar secara terus-
              menerus, merawat loyalitas pelanggan, dan mencoba menawarkan produk-
              produk, termasuk produk budaya secara massif. Massa, di era masyarakat
              modern berubah menjadi tempat pemasaran produk budaya dan sasaran
              berondongan iklan. Di berbagai toko buku, misalnya, kita dengan muda bisa
              melihat bahwa selain jajaran dan berderet-deret buku yang ditata sedemikian
              rupa aktraktifnya dengan sampul dan kemasan yang menawan, niscaya di
              sekitarnya apa terpampang berbagai poster, iklan dan juga asesori lain yang
              intinya mencoba menyuguhkan bacaan layaknya produk budaya kemasan
              yang menarik untuk dilihat dan kemudian dibeli.
   39   40   41   42   43   44   45   46   47   48   49