Page 40 - index
P. 40
28 Membaca, Gaya Hidup dan Kapitalisme
yang penuh makna (Barker, 2004: 12). Berbeda dengan masa lalu, di mana
aktivitas membaca seringkali dilakukan di lingkup yang terbatas, hanya
di kalangan kaum terpelajar dan kalangan istana yang sangat elitis, di era
global seperti sekarang ini aktivitas membaca tumbuh menjadi bagian dari
perkembangan gaya hidup masyarakat urban yang konsumtif. Bacaan dan
aktivitas membaca dari pespektif Cultural Studies, dengan demikian adalah
sebuah teks yang melibatkan proses pembentukan makna yang menarik
untuk dikaji lebih jauh.
Fokus utama Cultural Studies berpusat pada pertanyaan tentang rep-
resentasi, yaitu bagaimana dunia ini dikonstruksi dan direpresentasikan se-
cara sosial kepada dan oleh kita. Cultural Studies, dalam berbagai studinya
umumnya mengeksplorasi pembentukan makna tekstual, dan sekaligus me-
nyelidiki tentang cara dihasilkannya makna pada beragam konteks. Seperti
dikatakan Barker (2004: 9), representasi dan makna budaya memiliki ma-
terialitas tertentu, mereka melekat pada bunyi, prasasti, objek, citra, buku,
majalah, program televisi atau yang lain. Mereka diproduksi, ditampilkan,
digunakan dan dipahami dalam konteks sosial tertentu. Mengapa seorang
remaja urban memilih memanfaatkan waktu luang untuk membaca, bukan
aktivitas yang lain, tentu bukan sekadar karena didorong faktor psikologis
atau motivasi untuk memperoleh pengetahuan belaka, tetapi yang perlu di-
kaji adalah konteks dan konstruksi sosial yang berkembang di benak remaja
urban itu dalam memandang aktivitas membaca, termasuk bacaan yang di-
pilih dan apa sebetulnya yang membuat ia senang melakukannya.
Cultural Studies, dalam berbagai studi yang dilakukan sebagian besar
memberi perhatian pada ekonomi industri modern dan budaya media
yang diproduksi pada sistem kapitalis di mana representasi diproduksi
oleh perusahaan yang didorong oleh motif mencari laba. Namun demikian,
Barker (2004: 9) menegaskan bahwa Cultural Studies sebetulnya di saat
yang sama juga memiliki prinsip sentral, yaitu karakternya yang non-
reduksionisme. Artinya, kebudayaan dipandang memiliki makna, aturan
dan praktiknya sendiri yang tidak dapat direduksi menjadi, atau hanya dapat
dijelaskan di dalam, kategori atau level lain dalam bangunan atau struktur
sosial. Secara khusus, Cultural Studies bahkan telah bertempur melawan
reduksionisme penjelasan ekonomi, yaitu upaya untuk menjelaskan teks
budaya semata berdasarkan tempatnya di dalam proses produksi. Bagi

