Page 66 - index
P. 66

54                                        Membaca, Gaya Hidup dan Kapitalisme


              membaca, siswa menerapkan semua pengetahuannya untuk mengkodekan
              kata-kata dan menginterpretasi simbol tercetak guna meningkatkan
              kenikmatan membaca dan juga pengetahuan mereka (Strauss, 1998).
                    Siswa yang membaca komik lebih banyak terbukti memiliki kebiasaan
              membaca buku lebih besar, dan cenderung membaca lebih banyak buku pula
              (Udjie & Krashen, 2006). Krashen (1993), misalnya mengemukakan bahwa
              membaca buku komik dan buku ringan lainnya dapat berperan sebagai
              jembatan penting dari bahasa percakapan menuju ke bahasa –yang disebut
              Cummins (1991)- dengan bahasa akademis. Komik memberi para pembacanya
              basis linguistik sebagai modal untuk membaca teks yang lebih sulit (lihat: Udjie
              & Krashen, 2006).
                    Studi yang dilakukan Anderson, Wilson dan Fielding (1988) menemukan
              bahwa untuk siswa Kelas 5, jumlah waktu yang digunakan untuk membaca
              di luar sekolah merupakan prediktor terbaik untuk mengetahui kemampuan
              membaca, perbendaharaan kata dan kecepatan membaca. Mereka juga
              menemukan bahwa membaca mandiri berhubungan dengan meningkatnya
              keberhasilan dalam membaca. Studi lain menemukan, siswa di Kelas 4, 8
              dan 12 yang dilaporkan banyak membaca di luar jam sekolah terbukti lebih
              berhasil dalam ujian kemampuan membaca (lihat: Galik, 1999). Pendek
              kata, keterlibatan siswa dalam kegiatan membaca yang menyenangkan
              (recreational reading), selain mendukung peningkatan prestasi akademiknya,
              juga berperan dalam mengembangkan gaya penulisan yang lebih baik
              daripada sebayanya yang tidak melakukan  recreational reading (Block &
              Mangieri, 2002). Studi di kalangan siswa TK dan SD menemukan bahwa
              minat suka rela (voluntary interest) mereka pada buku menunjukkan bahwa
              mereka tidak hanya memiliki kebiasaan kerja yang baik, perkembangan
              sosial dan emosional, struktur bahasa, perfoma sekolah lainnya, namun juga
              pencapaian nilai yang tinggi dalam tes membaca terstandarisasi (Arthur,
              1995).

                    Apresiasi, minat dan rasa menikmati (enjoyment) adalah tiga hal yang
              diyakini perlu dikembangkan dan ditekankan dalam kurikulum di sekolah
              untuk mendorong tumbuhnya perilaku gemar membaca di kalangan
              siswa (Strauss, 1998). Membaca adalah aktivitas budaya yang tidak
              seharusnya dipaksakan dan dibentuk dengan cara-cara yang represif dan
              punitif. Selain motivasi, faktor lain yang membentuk lifelong reader adalah
   61   62   63   64   65   66   67   68   69   70   71