Page 149 - index
P. 149
BaB 6 | Teori Sosial Postmodern
hatiannya pada keberagaman yang kuat, bagaimanapun merupakan se-
suatu yang menjanjikan dan menawarkan hal-hal baru yang sebelumnya
tidak terpikirkan teoretisi sosial modern.
A. AwAl mulA PostmoDerN
Walaupun dalam perkembangannya postmodern cenderung lebih
populer di Amerika dan Eropa, tetapi istilah postmodern dan postmo-
Prenada Media Group
dernisme sebetulnya berasal dan pertama kali muncul justru di Ameri-
ka Latin. Istilah postmodern pertama kali digunakan oleh Federico de
Onis pada 1930-an, dan kemudian istilah ini menjadi populer digunakan
dalam berbagai aspek kajian dan bidang ilmu, mulai dari sejarah, litera-
tur, seni, arsitektur, teater, lukisan, hingga ilsafat. Federico de Onis,
menggunakan istilah postmodern untuk menggambarkan pengaliran
kembali konservatif dalam modernisme itu sendiri—suatu pelarian dari
tantangan lirik yang berat dan perfeksionisme yang kaku (Anderson,
2008: 3). Federico de Onis, seorang kritikus seni, dalam tulisannya Anto-
logia de la Poesia Espanola a Hispanoamericana (1930) menyebut istilah
postmodernisme untuk menunjuk kepada reaksi minor terhadap mo-
dernisme yang muncul pada saat itu.
Sementara itu, ada pula pendapat yang mengatakan bahwa istilah
postmodernisme sebetulnya bukan muncul di Amerika Latin, melainkan
di Jerman. Istilah ini sudah digunakan sejak 1917 oleh Rudoplh Panwitz.
Panwitz adalah seorang ilsuf Jerman yang secara kritis menangkap ada-
nya gejala nihilisme kebudayaan Barat modern, dan menanggapi mo-
dernisme dengan penuh kecurigaan seperti yang dilakukan Nietzsche,
Rousseau, dan Schopenhauer. Modernitas di dalam pandangan Panwitz
cenderung hanya melahirkan kekosongan, kehampaan, dan bahkan ni-
hilisme (lihat Best and Kellner, 1991: 5-6).
Selama dua dekade, yakni antara 1930-1940-an, istilah postmodern-
isme sepertinya menghilang dari peredaran, dan karenanya tidak terlalu
memasyarakat, baik dalam perbincangan akademik maupun diskusi di
massa. 1950-an, k mun-
cul di Inggris, tetapi dalam konteks yang berbeda, yakni lebih sebagai
epoch estetis. Toynbee,
A Study of History jilid 8 yang diterbitkan tahun 1954 menyatakan bahwa
137

