Page 153 - index
P. 153

BaB 6  |  Teori Sosial Postmodern

            sial modern yang mengedepankan rasionalitas, teori postmodern justru
            muncul dengan segala bentuk kritik terhadap impian-impian yang di-
              proy  modernitas.          R
              (1596-1650),            me-
            tode ilmiah sebagai kunci untuk mencari kebenaran ilmu pengetahuan.
            Immanuel Kant bahkan mengklaim bahwa modernitas membebaskan
                kenaifan.  T
        Prenada Media Group
            mengkritik metode ilmiah sains yang dinilai positivistik dan menyatakan
            bahwa di era masyarakat post-industrial yang terpenting yaitu pastiche,
            yakni suatu pandangan yang menyatakan bahwa berbagai pandangan
            dilihat sebagai sumber kekayaan dari kenyataan menyeluruh (Lyotard,
            1984: xviii).
                Hasan (2003) menyatakan postmodernisme memiliki ciri cenderung
            mengesampingkan sejarah dalam arti tunggal dan mengedepankan seja-
            rah polikronik. Postmodernisme bukanlah suatu periode—sebagai kons-
            truk  temporal,  kronologis,  atau  diakronik—melainkan  berfungsi  seba-
            gai  kategori  teoretis,  fenomenologis,  atau  sinkronik.  Postmodernisme
            adalah kategori interpretif, sebuah alat hermeneutis. Filsafat dan teori
            sosial postmodern merupakan cara kita memandang dunia, sejarah, rea-
            litas, dan diri kita sendiri.
                Sejarah  perkembangan  postmodern,  baik  sebagai  aliran  ilsafat
            maupun sebagai bagian dari teori sosial kontemporer,  sesungguhnya
            merepresentasikan gerakan pertemuan dari tiga kecenderungan kultura l
            yang berbeda. Pertama, melibatkan perubahan-perubahan tertentu da-
            lam dunia seni—terutama reaksi menentang gaya internasional (inter-
            national style) dalam dunia arsitektur. Kedua, berkaitan dengan perubah-
            an dunia sosial dan transformasi masyarakat sebagaimana dibahas te ori
            masyarakat post-industrial, seperti Daniel Bell dan Alain Touraine. Ke-
            tiga,  berkait an  dengan  perkembangan  arus  dalam  dunia  ilsafat  yang
            diasosiasikan dengan kelompok post-strukturalis,  seperti Jacques Der-
            rida,  Foucault,      Deleuze.  K        me-
                terfragmentasi,  heterogen,        realitas,
            menyangkal kemampuan pemikiran manusia untuk sampai pada penge-
            tahuan objektif atas realitas (Callinicos, 2008: 6).
                Jean-Francois Lyotard adalah salah seorang ilsuf yang dikenal se-



                                                                       141
   148   149   150   151   152   153   154   155   156   157   158