Page 157 - index
P. 157
BaB 6 | Teori Sosial Postmodern
kan dekonstruksi, Derrida berupaya memunculkan kembali dimensi
metaf realitas.
Menurut Derrida, yang namanya tanda sesungguhnya selalu men-
dahului kehadiran. Teks senantiasa mengandung differance (penundaan)
dan difference (perbedaan). Teks bukanlah sesuatu yang otonom, absolut
dan hanya berlaku dalam sistem yang tertutup dan dalam deinisi yang
tetap, melainkan dalam jaringan yang luas, dan selalu luwes, terbuka
Prenada Media Group
dan berubah terus-menerus. Dalam berbagai cara, Derrida tertarik pada
proses decentering. Derrida di sini ingin meninggalkan fokus struktural-
isme pada tanda (sign) dan menitikberatkan pada proses menjadi tanda
(becoming sign)—meninggalkan struktur objektif beralih pada hubungan
antara struktur subjektif dan objektif (Ritzer, 2010: 205). Derrida me-
nolak liniaritas dan menolak menyelidiki yang asli (origin)—suatu cara
berpikir yang menjadi inti pemikiran post-strukturalis dan postmodern-
isme.
Michel Foucault adalah salah seorang pemikir awal postmodernis-
me yang mengundang kontroversi dan banyak dipengaruhi Nietzche. Pe-
mikiran Foucault tentang genealogi ilmu pengetahuan dan analisisnya
terhadap humaniora, humanisme liberal, dan etika banyak dipengaruhi
pemikiran Nietzche, meski Foucault sendiri kemudian mengembang-
kan pemikirannya yang terkesan lebih ekstrem. Foucault menyatakan,
kekuasaan dan pengetahuan modern telah menciptakan dominasi ter-
k
kejiwaan, pengobatan, serta kesehatan, hukuman, dan kejahatan. Ke-
munculan kontra ilmu (modern) seperti psikoanalisis, linguistik dan
etnologi, meny se-
bagai akibat dari bahasa, kesintingan, dan ketidaksadaran. Pemikiran
Foucault yang mengedepankan pluralisme, diskursivitas, sikap decen-
tred, dan non-evolusioner dalam ilmu pengetahuan, seksualitas, dan
politik, dalam banyak hal menjadi landasan perkembangan pemikiran
teori sosial postmodern (lihat Best dan Kellner, 1991: 41-70).
Dalam pandangan Foucault, narasi besar dalam modernisme se-
semu. Ber-
beda dengan teoretisi modern yang memahami manusia sebagai sub-
jek yang mandiri dan otonom, Foucault memahami manusia modern
145

