Page 161 - index
P. 161
BaB 6 | Teori Sosial Postmodern
simbolik yang tercermin dalam lebih banyak perhatian yang dicurahkan
kepada representasi, khususnya dalam media dan wacana-wacana popu-
ler. Keempat, dari institusi ke aktor dan jaringan yang leksibel berdasar-
kan konsensus yang sifatnya temporer. Kelima, dari yang tipikal ke yang
beragam dan margi nal, seperti kelompok minoritas jenis kelamin, etnis,
religius, gaya hidup, dan budaya mereka (Turner, 2012: 430).
Pauline Rosenau (1992: 6) menyebutkan beberapa karakteristik dari
Prenada Media Group
teori postmodern, antara lain: Pertama, postmodernisme merupakan
kritik atas masyarakat modern dan kegagalannya memenuhi janji-jan-
jinya. Kedua, teoretisi postmodern cenderung menolak apa yang biasanya
di kenal dengan pandangan dunia (world view), metanarasi, dan totalitas.
Ketiga, teoretisi postmodern cenderung menggembar-gemborkan fe-
nomena besar pramodern, seperti emosi, perasaan, intuisi, releksi, spe-
kulasi, pengalaman personal, kebiasaan, kekerasan, metaisika, tra di si,
kosmologi, magis, mitos, sentimen keagamaan, dan pengalaman mis tik.
Keempat, teoretisi postmodern menolak kecenderungan modern yang
meletakkan batas antara hal-hal tertentu seperti disiplin akademis,
kehidupan, teori, image, dan realitas. Keli ma,
teoretisi postmodern cenderung menolak gaya diskursus akademik
modern yang teliti dan bernalar. Keenam, teoretisi postmodern tidak
memf (core) masyarakat modern, melainkan
pada bagian tepi (periphery).
Secara epistemologi, teori postmodern dikategorikan sebagai rela-
tivis karena menurut penganut teori ini yang berperan sesungguhnya
k (individual). k tunggal,
apalagi mutlak dalam paradigma ini. Kalau menurut paham positivis-
tik ada masalah objektivitas, pada masa postmodern objektivitas itu
na-
ra si besar atau struktur besar yang membentuk suatu wacana sehingga
seakan-akan objektif. Postmodernisme adalah yaitu suatu wacana yang
dibangun oleh pluralitas ideologi, yang di dalamnya berbagai keyakin-
an dan kepercayaan, hidup bersama-sama di dalam ruang dan waktu
yang sama. Secara etika, teori postmodern dikategorikan sebagai nihilis,
sebab dalam teori ini tidak dikenal adanya penilaian absolut, manusia
hidup tanpa nilai dan makna. Adapun secara estetika, teori postmodern
149

