Page 164 - index
P. 164
Perkembangan Masyarakat Informasi & Teori Sosial Kontemporer
akibat yang sangat mengacaukan, yang pada akhirnya mendekomposisi
modernitas itu sendiri (Ritzer & Smart, 2011: 637). Era postmodernitas,
yang dimulai di pertengahan abad ke-20, khususnya setelah Perang Du-
nia II, terutama ketika budaya konsumen pop dan revolusi informasi me-
dia menyebabkan makin mengglobalnya penyebaran ide dan hubung an
pasar (Turner, 2012: 440), menyebabkan relasi sosial yang berkembang
di masyarakat mengalami perubahan yang dahsyat, menjadi lebih plu-
Prenada Media Group
ralistik, dan sekaligus kehilangan maknanya.
Memudarnya batas ruang dan waktu, serta kehadiran realitas so-
sial yang makin sulit dibedakan mana yang asli dan mana yang hanya
rekaan, disadari tidak lagi mungkin dijelaskan dengan teori-teori sosi-
al modern. Para teoretisi postmodern seperti Jean-Francois Lyotard,
Jameson, Baudrillard,
yang dinilai lebih menjanjikan untuk menjelaskan perkembangan baru
di era postmodernitas dan post-industrial. Meski banyak berutang budi
pada konsep dan pemikiran Daniel Bell, tetapi dalam perdebatan dan
perkembangan teori postmodern, Bell sering kali diabaikan dan tidak
disebut-sebut sebagai teoretisi postmodern. Padahal, seperti diakui
Turner, inf
bagi pasca-industrialisme sebetulnya merupakan unsur penting bagi
(Turner, 5).
D. lyotArD: FIlsuF DAN PeloPor teoretIsI PostmoDerN
Jean-Francois Lyotard adalah seorang ilsuf asal Perancis yang di-
sebut-sebut sebagai pelopor pemikiran ilsafati postmodern. Lyotard
dilahirkan tahun 1924 di Versailles, suatu kota kecil di sebelah selatan
Paris. Lyotard belajar ilsafat dan sastra di Universitas Sorbonne. Lyotard
merupakan salah satu tokoh terpenting dalam perkembangan ilsafat
postmodern yang pemikirannya banyak dipengaruhi Edmund Husserl,
Frued, Friedrich Nietzsche, Wittgenstein, Hegel, dan Karl Marx—meski
dengan kadar yang berbeda-beda, dan bahkan pada satu titik tertentu
Lyotard meninggalkan cara berpikir para pendahulunya itu, terutama
Marx. non-Marx-
ist, yang melepaskan diri dari Marxisme dan kemudian lebih tertarik
mengembangkan pemikiran ekonomi energi libido dari Sigmund Freud,
152

