Page 160 - index
P. 160
Perkembangan Masyarakat Informasi & Teori Sosial Kontemporer
c. KArAKterIstIK teorI sosIAl PostmoDerN
Menurut Ritzer (2012: 1072), postmodern adalah suatu masa sejarah
baru, produk budaya baru, dan suatu jenis penteorian baru tentang du-
nia sosial, yakni suatu cara berpikir yang berbeda dengan teori sosial
modern. Pertama, di kalangan teoretisi postmodern, ada kepercaya an
luas bahwa era modernitas sudah berakhir, dan kita masuk pada suatu
epos baru, yaitu postmodernisme. Kedua, dalam berbagai produk bu-
Prenada Media Group
daya, produk postmodern cenderung menggantikan produk modern.
Ketiga, teori sosial modern dinilai cenderung menjadi absolut, rasional,
dan menerima posibilitas penemuan kebenaran, sebaliknya teori post-
modern cenderung menjadi relatiistik dan terbuka kemungkinan irasio-
nalitas.
Karena menyerang klaim-klaim teori sosial modern tentang pe-
to sosial, k sosial,
perubahan sosial yang dipandang menguntungkan, yang sebenarnya
merupakan bentuk penindasan sosial, maka posmodernis membangun
kritik-kritik serta mempertegas posisinya. Pertama, menolak legitima-
si kekuasaan sistem terpusat yang menghancurkan individualitas dan
memblokir kekuatan kreativitas bahasa dan hasrat. Kedua, postmodernis
menekankan fragmentasi budaya yang pervasive, disintegrasi, menolak
konsep yang dilahirkan oleh tatanan sosial yang koheren. Ketiga, post-
modernis menolak subjek yang rasional dan otonomi karena memiliki
daya merepresi spontanitas manusia, perbedaan, dan keinginan (lihat
Kellner, Dick Fontana, 127-152).
dengan teori sosial modern yang berusaha mencari landasan rasional,
ahistoris, dan universal untuk analisis dan kritiknya terhadap masyara-
kat, para teoretisi sosial postmodern justru menolak fondasionalisme,
dan cenderung bersikap relativistik, tidak rasional dan nihilistik (Ritzer,
2012: 1073).
Secara garis besar, ada lima pergeseran fokus analisis dalam teori
modern ke teori postmodern, yaitu: Pertama, pergeseran fokus perhatian
dari struktural ke kultural, yakni kebudayaan, khususnya budaya pop yang
biasanya dikaitkan dengan konsumsi dan reformasi identitas. Kedua, dari
produksi massal ke konsumsi dan gaya hidup massal, komuni kasi, dan
media massa. Ketiga, dari interaksi ke wacana, suatu pergeseran linguistik/
148

