Page 167 - index
P. 167

BaB 6  |  Teori Sosial Postmodern

            merupakan metanarasi yang tidak lagi meyakinkan. Secara lebih perinci,
            ciri  dari  pemikiran  ilsafat  postmodern  Lyotard  antara  lain  punahnya
            metanaratif, pembubaran bahasa naratif, mengedepankan valensi prag-
            matisme,  mengesampingkan antropologi Newtonian (strukturalisme
            atau teori sistem), dan mengganti serta mendasarkan pada pragmatisme
            partikel bahasa sekaligus mempromosikan heterogenitas unsur, institusi
            yang berada dalam kolase atau dalam determinisme lokal (lihat Lyotard,
        Prenada Media Group
            1984; Best dan Kellner; 1991, Bertens, 1995: 3-33).
                Selama ini (dalam abad modern) ilmu pengetahuan ilmiah atau
            sains, sebagai salah satu wacana (discourse), memang telah mengklaim
            dirinya sebagai satu-satunya jenis pengetahuan yang valid.  Namun
            sains tak dapat melegitimasi klaim tersebut, oleh karena ternyata aturan
            main sains bersifat inheren serta ditentukan oleh konsensus para ahli
            (ilmuwan) dalam lingkungan sains itu sendiri. Sains kemudian melegiti-
            masi dirinya dengan merujuk pada suatu metawacana (meta-discourse);
            secara konkret sains melegitimasi dirinya dengan bantuan beberapa
            narasi besar seperti dialektika roh,  hermeneutika makna,  emansipasi
            subjek yang rasional,  dan penciptaan kesejahteraan umat manusia
            (Lyotard, 1984: xxiii). Dalam pandangan Lyotard, postmodern menolak
            da sar pencerahan dan konsekuensi yang melegitimasi dasar modernis-
            me.  Postmodern  yaitu  ketidakpercayaan  terhadap  metanaratif,  suatu
            ketidakpercayaan terhadap produk kemajuan (progresivisme) dalam ilmu
            pengetahuan.  Lyotard menggunakan istilah modern untuk menunjuk-
                              ref
            pada suatu metawacana yang membuat suatu keputusan eksplisit pada
            beberapa narasi agung.
                Menurut Lyotard, metanaratif beroperasi melalui inklusi dan eks-
            klusi, sebagai kekuatan yang menghomogenisasi wacana dan suara liyan
            (the other) atas nama prinsip dan tujuan universal. Bagi Lyotard, post-
            modernisme merupakan sinyal kolapsnya seluruh metanaratif univer-
            salis dengan privilese mereka untuk menyampaikan ‘kebenaran’. Di sisi
            lain,  postmodernisme juga merupakan kesaksian atas meningkatnya
            suara pluralitas dari pinggiran dan penegasan tentang perbedaan,  ke-
            ragaman kultural, serta klaim heterogenitas atas homogenitas. Berbeda
            dengan modernisme yang secara epistemologis mengedepankan pada



                                                                       155
   162   163   164   165   166   167   168   169   170   171   172