Page 171 - index
P. 171

BaB 6  |  Teori Sosial Postmodern

                Semula Lyotard sebetulnya bergabung dan banyak berdiskusi de-
            ngan kelompok Marxist yang menerbitkan majalah Socialism or Bar-
            bie.  T  Lyo
            Marx. Karena itu menolak semua interpretasi dogmatis, seperti Stalin-
            isme, Trotskyisme, atau Maoisme. Lyotard, dalam membangun ilsafat

            postmodern melontarkan kritik tajam kepada ilsafat pencerahan (en-
            lightenment) yang dinilai terlalu terpaku pada grand narrative yang men-
        Prenada Media Group
            gandalkan akal dan kebebasan naluriah, teologi spirit (geist) pada ideal-
            isme, dan hermeneutika arti (dalam historisme). Cerita besar cenderung
            menjadi metanarasi yang melegitimasikan dirinya. Setiap teori berusaha
            menotalkan dirinya menjadi metawacana (meta-discourse).  Padahal,  di
              postmodernisme,            (Mudhoir,
            2001: 329).
                Postmodern, dengan demikian bisa dikatakan yaitu suatu aliran ilsa-
            fat yang didasari ketidakpercayaan terhadap segala bentuk narasi besar,
            penolakan ilsafat metaisis, ilsafat sejarah, dan segala bentuk pemikir-
            an yang mentotalisasi. Di mata ilsuf postmodern, dominasi paradigma
            sains,  terutama positivistik dari ilmu-ilmu (alam) telah memberangus
            kemungkinan munculnya pijakan pemahaman masyarakat atas reali-
            tas.        ilsafat,      dek
                    modern.  Pengetahuan,    il-
                      kebenaran,  rasionalitas,
            objektivitas.  K          homology (kes-
            atuan) tetapi paralogy (keragaman), sehingga dalam il safat postmodern
            yang muncul yaitu relativitas kebenaran (Santoso et al., 2012: 321).
                Dalam pandangan Lyotard, prinsip dasar yang berlaku dalam ilsa-
            fat postmodern bukanlah universalitas akal atau kebutuhan akan kese-
            pakatan, melainkan justru kebutuhan untuk menggerogoti kesepakatan
            yang telah mapan dalam rangka tiap kali memberikan kembali peluang
            bagi karakter-karakter lokal tiap wacana,  argumentasi,  dan legitimasi
                (Sugiharto,    59).      dipenting     ilsa-
              postmodern,              be-
            sar yang cenderung menekankan universalitas dan totalitas, melainkan
            keragaman narasi kecil dan meta-argumen yang saling mencari peluang
            untuk tampil dalam kehidupan masyarakat post-industrial. Ringkas kata,



                                                                       159
   166   167   168   169   170   171   172   173   174   175   176